EkonomiHeadlineJatim

Gubernur Khofifah Pimpin Tanam Perdana Tebu Serentak di 11 Kabupaten, Jawa Timur Perkuat Posisi sebagai Lumbung Gula Nasional

×

Gubernur Khofifah Pimpin Tanam Perdana Tebu Serentak di 11 Kabupaten, Jawa Timur Perkuat Posisi sebagai Lumbung Gula Nasional

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Hamparan kebun tebu di Desa Ngletih, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, menjadi saksi dimulainya langkah besar Jawa Timur menuju swasembada gula nasional. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung tanam perdana program bongkar ratoon tebu serentak yang digelar di 11 kabupaten dan 15 titik tanam se-Jawa Timur, Sabtu (23/5).

Didampingi Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil, Direktur Utama SGN Mahmudi, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa, serta jajaran kepala daerah dan perangkat Pemprov Jatim secara daring maupun luring, kegiatan ini menjadi simbol kuat keseriusan Jawa Timur menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat industri gula nasional.

“Hari ini kita lakukan bongkar ratoon serentak di 11 kabupaten di 15 titik tanam. Yang paling luas ada di Kabupaten Kediri, sehingga dipusatkan di Desa Ngletih bersama Kelompok Tani Tebu Semoga Jaya. Kita nandur tadi dengan doa, semoga tidak hanya produktif, tapi juga berkah,” kata Khofifah.

Program bongkar ratoon sendiri merupakan langkah peremajaan tanaman tebu guna meningkatkan produktivitas hasil panen. Tahun 2026, Jawa Timur mendapat target pengembangan tebu terbesar secara nasional, yakni 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.

Khofifah menegaskan, target pemerintah bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi mewujudkan swasembada gula konsumsi pada tahun ini dan berlanjut ke swasembada gula industri pada tahun depan.

“Ada niat mulia untuk mencapai swasembada gula. Yang diharapkan bukan hanya luas lahan bertambah, tetapi produktivitas tebu di Jawa Timur juga meningkat,” ujarnya.

Tak hanya fokus pada masa tanam, Khofifah juga memberi perhatian serius terhadap nasib petani setelah panen. Menurutnya, ekosistem pergulaan harus memastikan hasil produksi petani benar-benar terserap pasar dengan harga yang layak.

Ia mengungkapkan, salah satu persoalan yang pernah menghantam petani tebu adalah membanjirnya gula rafinasi di pasar konsumsi, yang membuat gula petani sulit terserap.

“Kalau gula rafinasi merembes ke pasar konsumsi, itu sangat mengganggu gula petani tebu. Karena itu pengendalian impor harus benar-benar dijaga,” tegasnya.

Saat ini, lanjut Khofifah, pemerintah telah memperketat impor gula rafinasi dan menyerahkannya kepada BUMN agar pengawasan lebih mudah dilakukan.

Sebagai provinsi penghasil tebu terbesar di Indonesia, Jawa Timur kini menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional. Bahkan pada tahun 2025, produksi gula kristal putih Jawa Timur mencapai 1.343.995 ton, tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Menurut Khofifah, capaian tersebut merupakan hasil gotong royong banyak pihak, mulai dari petani, pabrik gula, pemerintah, hingga lembaga penelitian dan perguruan tinggi.

Ia juga menyoroti posisi strategis Kabupaten Kediri yang memiliki sekitar 25 ribu hektare lahan tebu serta didukung tiga pabrik gula aktif.

“Ini kekuatan besar yang harus terus kita dorong agar Kediri semakin menjadi pusat pertumbuhan industri gula nasional,” katanya.

Ke depan, Pemprov Jawa Timur akan terus memperkuat dukungan melalui bantuan alat dan mesin pertanian, penguatan irigasi, hingga program mitigasi perubahan iklim.

“Kita menghadapi tantangan besar, mulai perubahan iklim, alih fungsi lahan hingga persaingan global. Karena itu, kunci keberhasilan ada pada inovasi dan kolaborasi,” ujar Khofifah.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian kepada kelompok tani, berupa pompa air, rice transplanter, handtractor rotary, cultivator, serta paket adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Sementara itu, Plt Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil mengapresiasi capaian Jawa Timur yang dinilai menjadi motor penggerak sektor pertanian nasional.

“Kinerja Jawa Timur sangat keren. Produktivitasnya tinggi, baik untuk beras, gula maupun jagung. Dengan dukungan Ibu Gubernur dan SGN, kami optimistis program swasembada gula bisa tercapai,” ujarnya.

Senada, Direktur Utama SGN Mahmudi menilai program bongkar ratoon menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas gula nasional.

“Ini adalah ikhtiar bersama agar target swasembada gula 2026 benar-benar bisa terwujud,” pungkasnya.