EkonomiHeadlineSurabaya

Babak Baru “Dokter Mobil” Jalan Nias: Pindah Rumah Tanpa Kehilangan Nafkah

×

Babak Baru “Dokter Mobil” Jalan Nias: Pindah Rumah Tanpa Kehilangan Nafkah

Sebarkan artikel ini
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi merelokasi puluhan pelaku usaha bengkel di Jln Nias ke tempat yang lebih layak dan aman, di Jalan Menur Nomor 111, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo / Foto : Diskominfo Surabaya.

KaMedia – Bagi warga Kota Pahlawan, nama Jalan Nias sudah puluhan tahun identik dengan deretan montir andal. Sejak akhir tahun 1970-an, kawasan ini menjelma menjadi jujukan pemilik mobil yang ingin mendempul, mengelas, hingga mengecat kendaraan mereka. Pelanggannya pun lintas daerah, mulai dari Madura, Kediri, hingga Malang.

​Namun, bekerja di bahu jalan tentu punya cerita sendiri. Rasa waswas selalu membayangi para pekerja dan pengguna jalan karena lalu lintas yang padat.

​Kini, cerita itu memasuki babak baru. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya resmi merelokasi puluhan pelaku usaha bengkel ini ke tempat yang jauh lebih layak dan aman: Jalan Menur Nomor 111, Kelurahan Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo.

​Langkah ini bermula saat Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, turun langsung meninjau Jalan Nias pada akhir Juni 2026 lalu. Ia mendengar keluhan warga soal kemacetan dan estetika kota yang kurang tertata. Menariknya, pendekatan yang diambil Pemkot bukanlah penggusuran paksa yang mematikan dapur warga, melainkan penataan yang humanis.

​Jekti Purwantoro, atau yang akrab disapa Cak Lewan, Koordinator Bengkel Jalan Nias, mengenang momen mengejutkan saat orang nomor satu di Surabaya itu mendatangi tempat kerjanya.

​”Saya dan teman-teman sempat terkejut waktu Pak Wali datang. Tapi setelah mengobrol dan diajak melihat langsung lokasi di Menur, kami sadar tempat baru ini jauh lebih layak,” cerita Cak Lewan hangat, Senin (6/7/2026).

​Pria yang sudah mengelas di Jalan Nias sejak 1985 ini mengaku lega. Di tempat baru, ia tak perlu lagi menoleh kanan-kiri dengan cemas saat bekerja.

​”Dulu kami bekerja di pinggir jalan, selalu waspada karena kendaraan melintas sangat dekat. Sekarang kami punya tempat khusus yang aman, nyaman, dan tidak mengganggu lalu lintas lagi,” tambahnya.

​Hebatnya lagi, seluruh proses pemindahan ini gratis tis! Sekitar 20 pekerja bengkel yang kini sudah menempati lapak baru tidak dipungut biaya sepeser pun. Bahkan, Pemkot berjanji akan menambah fasilitas atap pelindung agar mereka tak kepanasan atau kehujanan saat bekerja. Saat ini, geliat ekonomi mereka tetap berjalan normal, mampu menyelesaikan pengerjaan enam hingga tujuh mobil per hari.

​Pemindahan ini tidak hanya membawa berkah bagi para montir, tetapi juga menyalakan lilin toleransi dan gotong royong di tempat yang baru. Warga Manyar Sabrangan menyambut kedatangan para pencari nafkah ini dengan tangan terbuka.

​Ketua LPMK Manyar Sabrangan, Basuki Nugroho, menyebut kepindahan ini sebagai potret nyata dari implementasi Kampung Pancasila.

​”Semangat Kampung Pancasila mengajarkan bahwa kita semua adalah warga Surabaya yang harus saling mendukung. Kami menerima kehadiran mereka sebagai bagian dari upaya bersama menggerakkan roda ekonomi,” kata Basuki.

​Senada dengan Basuki, Ketua RT 06 RW 01, Sunardi, dan seorang warga setempat bernama Nanang, juga memberikan lampu hijau. Bagi mereka, batas wilayah administratif tidak boleh menyekat rasa persaudaraan sesama warga kota.

​Namun, ada sebuah harapan indah yang dititipkan warga Manyar Sabrangan. Mereka berharap kehadiran sentra bengkel baru ini bisa membuka lapangan kerja bagi pemuda lokal yang punya keahlian mengelas atau mengecat mobil.

​Kini, Jalan Nias telah kembali ke fungsinya yang semula, lebih bersih, terang, dan saluran drainasenya lancar. Sementara di Jalan Menur, dentang martil bertemu pelat besi dan desis cat semprot terus berbunyi, menandakan bahwa di kota ini, estetika dan urusan isi piring warga bisa berjalan beriringan dengan harmonis.