KaMedia – Malam belum sepenuhnya turun ketika halaman Tugu Pahlawan mulai dipenuhi aroma dupa, alunan gamelan, dan langkah ratusan peserta kirab budaya. Di tengah gemerlap kota metropolitan yang terus bergerak cepat, Surabaya sejenak kembali menunduk pada akar budayanya.
Pemerintah Kota Surabaya menggelar Ruwatan Kota dan Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, Sabtu (23/5/2026). Bukan sekadar agenda seremonial, malam budaya itu menjadi ruang pertemuan antara tradisi, spiritualitas, dan kegelisahan zaman modern yang semakin digital.
Ratusan seniman, budayawan, komunitas adat, hingga masyarakat umum larut dalam suasana sakral namun hangat. Kirab budaya membuka rangkaian acara dengan barisan peserta mengenakan busana adat Nusantara sambil membawa gunungan dan sesaji ruwat bumi Surabaya. Sekitar 400 orang terlibat dalam prosesi itu, berjalan perlahan di kawasan yang selama ini menjadi simbol heroisme Kota Pahlawan.
Di tengah denting gamelan dan cahaya lampu malam, pagelaran wayang kulit dengan lakon “Dewa Ruci” menjadi puncak acara. Menariknya, panggung budaya itu tak hanya diisi dalang senior, tetapi juga menghadirkan dalang anak sebagai simbol regenerasi tradisi yang mulai jarang disentuh generasi muda.
Kepala Bidang Kebudayaan Disbudporapar Surabaya, Fauzie Mustaqiem Yos, mengatakan ruwatan kota merupakan bentuk rasa syukur sekaligus ikhtiar budaya menjaga keselamatan dan harmoni kota.
“Ruwatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi ungkapan syukur atas keberkahan dan keselamatan bagi Kota Surabaya serta seluruh warganya,” ujarnya.
Dalam tradisi Jawa, ruwatan dipercaya sebagai ritual untuk membuang sengkala atau energi buruk agar terhindar dari mara bahaya. Melalui prosesi itu, masyarakat berharap memperoleh keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan bersama.
Pemilihan Tugu Pahlawan sebagai lokasi acara pun bukan tanpa alasan. Jika selama ini sedekah bumi dan ruwatan lebih sering dilakukan di kampung-kampung atau tingkat kelurahan, tahun ini Pemkot Surabaya sengaja membawanya ke ruang publik yang lebih besar.
Di tempat yang identik dengan sejarah perjuangan itu, budaya seolah mendapat panggung baru di tengah kehidupan kota modern.
“Karena itu tahun ini dipusatkan di Tugu Pahlawan agar masyarakat bisa menikmati bersama dan merasakan semangat kebudayaan secara lebih luas,” kata Yos.
Tak hanya ritual budaya, malam itu juga menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas. Mulai dari Pepadi, MLKI, sanggar seni, komunitas macapat, hingga pegiat budaya dari Gresik dan Sidoarjo ikut menyatu dalam satu panggung kebudayaan.
Prosesi pembacaan kidung suci, ujub sesaji, mantra Rajah Kalacakra, hingga pemotongan tumpeng berlangsung khidmat. Namun di sela-sela kesakralan itu, ada pesan yang ingin disampaikan Pemkot Surabaya: budaya tak boleh kalah oleh algoritma media sosial.
Bagi generasi muda yang lebih akrab dengan layar gawai, malam ruwatan itu menjadi pengalaman yang tak bisa digantikan video pendek atau siaran digital. Mereka melihat langsung bagaimana tradisi hidup, bergerak, dan diwariskan.
Surabaya malam itu bukan hanya kota metropolitan dengan gedung tinggi dan lalu lintas padat. Di bawah langit Tugu Pahlawan, kota ini menunjukkan dirinya sebagai ruang yang masih percaya bahwa tradisi adalah bagian penting dari masa depan.











