KaMedia – Duka mendalam masih menyelimuti rumah keluarga almarhumah Laila Endriati di Jalan Kawatan VII, Bubutan, Surabaya. Pada Sabtu (13/6/2026) malam, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi datang langsung untuk menyampaikan belasungkawa kepada suami almarhumah, Edhy Parlyn, dan keluarga besar yang ditinggalkan.
Kehadiran Eri malam itu bukan sekadar sebagai kepala daerah. Ia datang sebagai keluarga yang turut kehilangan orang terdekat. Almarhumah Laila Endriati diketahui masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya.
Laila Endriati meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tragis akibat terperosok ke dalam lubang proyek saluran air di kawasan Margorejo Indah, tepatnya di depan Plaza Marina, Jumat (12/6/2026) sekitar pukul 19.55 WIB.
Usai mengikuti tahlilan bersama keluarga, Eri mengaku baru mengetahui kabar duka tersebut pada Sabtu pagi setelah kembali dari ibadah haji. Saat itu dirinya masih menjalani masa cuti.
“Kampung Kawatan ini adalah kampung yang kekeluargaannya luar biasa. Saya lahir di sini. Yang ikut membesarkan saya, ya Mbak Endri dan Cak Sera. Karena itu saya minta izin kepada keluarga untuk datang malam hari agar bisa ikut tahlilan dan bersilaturahmi lebih lama,” ujarnya.
Bagi Eri, peristiwa ini bukan hanya soal hilangnya satu nyawa warga Surabaya. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai duka keluarga yang meninggalkan luka mendalam.
Dalam pertemuan dengan keluarga, Eri juga mendengarkan langsung kronologi kejadian. Berdasarkan informasi yang diterimanya, area proyek sebenarnya telah dipasangi barrier atau pembatas. Namun pemasangannya tidak menutup seluruh area sehingga menyisakan celah di bagian tengah. Celah itulah yang diduga menjadi jalur masuk sepeda motor korban saat melintas pada malam hari.
Peristiwa tersebut memicu kemarahan Eri. Ia menegaskan tidak akan mentoleransi kelalaian yang berpotensi membahayakan keselamatan warga.
“Saya berikan peringatan keras kepada kontraktor dan kepala dinas. Saya akan cek dokumen RKS-nya, bagaimana standar pengamanannya. Kalau ternyata pengamanan tidak dilakukan dan dinas membiarkan, saya akan berikan sanksi seberat-beratnya,” tegasnya.
Tak hanya itu, Eri bahkan membuka kemungkinan pencopotan pejabat apabila hasil investigasi menemukan adanya kelalaian serius dalam pengawasan proyek.
“Semua proyek di Surabaya harus sesuai dengan RKS dan penawarannya. Kalau tidak dijalankan, berarti ada yang tidak beres. Saya tunggu hasil investigasi Inspektorat tiga sampai empat hari ke depan untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab, apakah pimpinan proyek atau kepala dinasnya,” katanya.
Meski korban merupakan kerabatnya, Eri menegaskan bahwa ketegasan tersebut bukan karena faktor kedekatan keluarga. Baginya, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama dalam setiap pembangunan.
“Pembangunan untuk mengatasi banjir boleh dilakukan, tetapi tidak boleh mengorbankan nyawa warga Surabaya,” ujarnya.
Atas nama Pemerintah Kota Surabaya, Eri juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban. Ia berharap tragedi ini menjadi pelajaran penting agar seluruh proyek pembangunan lebih mengutamakan aspek keselamatan.
Di akhir kunjungannya, Eri mengajak masyarakat turut berperan aktif mengawasi proyek-proyek pemerintah. Warga diminta segera melapor jika menemukan proyek yang tidak dilengkapi rambu atau pengamanan yang memadai.
“Kalau ada proyek yang tidak memiliki penanda atau membahayakan, segera laporkan ke hotline saya. Jangan menunggu sampai ada korban. Kita harus mencegah sebelum terjadi musibah,” pungkasnya.











