KaMedia – Sebanyak 15 delegasi Yayasan Medical and Education (YME) Hong Kong yang dipimpin Dr. Jimmy Yong mengunjungi Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Selasa (4/8) sore. Kunjungan tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi sekaligus memperkenalkan wajah Islam yang ramah, inklusif, dan penuh kemaslahatan melalui peran masjid.
Rombongan yang terdiri atas tenaga kesehatan dan pendidik itu disambut langsung Ketua Badan Pelaksana Pengelola (BPP) MAS, Dr. KHM Sudjak, M.Ag., bersama Bendahara BPP MAS H.M. Soedarto serta jajaran pengelola. Selain berdialog mengenai berbagai program kemasjidan, delegasi juga diajak meninjau Menara 99 meter, Studio Radio dan Digital, serta sejumlah fasilitas pelayanan di lingkungan Masjid Al-Akbar.
Dr. Jimmy Yong mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Masjid Al-Akbar. Ia mengungkapkan bahwa sebelum membawa rombongan dari Hong Kong, dirinya kerap datang seorang diri untuk menikmati suasana masjid yang teduh dan menenangkan.
” Saya senang ke masjid ini. Selama ini saya sering datang sendiri, membaca buku di teras masjid, bahkan pernah tertidur karena suasananya begitu nyaman. Karena itu saya mengajak teman-teman yang datang langsung dari Hong Kong untuk berkunjung ke sini,” ujarnya.
Selain mengunjungi Masjid Al-Akbar, rombongan juga dijadwalkan bersilaturahmi ke Pesantren Tebuireng di Jombang dan Pesantren Al-Munawar di Bojonegoro sebagai bagian dari pengenalan terhadap khazanah pendidikan Islam di Jawa Timur.
Jimmy juga menyampaikan bahwa kehidupan umat Islam di Hong Kong berlangsung harmonis. Terdapat sejumlah masjid besar yang aktif melayani kebutuhan ibadah masyarakat Muslim, sementara pemerintah setempat memberikan ruang bagi para pekerja migran Muslim untuk menunaikan salat sesuai ketentuan yang berlaku.
Menyambut kunjungan tersebut, Ketua BPP MAS, Dr. KHM Sudjak, M.Ag., menyampaikan rasa syukur dan kegembiraannya atas hadirnya tamu kehormatan dari Hong Kong. Menurutnya, kunjungan ini menjadi bagian dari syiar Islam yang memperkuat ukhuwah lintas negara dan memperkenalkan fungsi masjid sebagai pusat peradaban.
Ia menjelaskan, Masjid Al-Akbar mulai dibangun pada 1995 dengan peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden Try Sutrisno dan diresmikan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 10 November 2000.
“Masjid Al-Akbar hadir sebagai masjid rujukan nasional yang ramah bagi semua kalangan, baik anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, lansia, penyandang disabilitas, maupun tamu Muslim dan non-Muslim. Semangatnya adalah menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam,” katanya.
Sudjak menambahkan, Masjid Al-Akbar mengusung konsep BESTI (Bersih/Suci, Sehat, dan Indah). Konsep tersebut diwujudkan melalui kebersihan tempat ibadah, fasilitas wudu dan sanitasi yang terawat, lingkungan yang asri, serta sistem keamanan yang membuat jamaah dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk.
Tak hanya menjadi tempat menunaikan salat, Masjid Al-Akbar juga menjalankan berbagai layanan kemasyarakatan. Di antaranya melalui Rumah Sehat yang melayani masyarakat dengan dokter umum, layanan kesehatan jiwa, hingga terapi bekam. Layanan ini terbuka bagi jamaah maupun masyarakat umum.
Dalam bidang pendidikan, Masjid Al-Akbar membina pendidikan formal mulai dari Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga perguruan tinggi. Sementara pendidikan nonformal diwujudkan melalui berbagai majelis ilmu, termasuk kajian Generasi Z Islami (Gen-ZI) yang rutin digelar setiap bulan.
Berbagai kegiatan pembinaan bagi lansia, ibu-ibu, hingga pelayanan sosial lainnya semakin menegaskan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat.
“Kami ingin Masjid Al-Akbar menjadi rumah besar bagi masyarakat. Bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat pelayanan umat yang menghadirkan manfaat, kenyamanan, dan keberkahan bagi semua,” ujar Sudjak.











