Gaya HidupSurabaya

Teladan Bukan Sekadar Viral, tapi Konsisten dalam Kebaikan

×

Teladan Bukan Sekadar Viral, tapi Konsisten dalam Kebaikan

Sebarkan artikel ini
Ning Imaz saat tampil bersama suaminya, Gus Rifqil Muslim Suyuthi, dalam Majelis Subuh GenZI (MSG) episode ke-28 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya / Foto : Humas Al Akbar.

KaMedia – Salah seorang pengasuh Pesantren Lirboyo Ning Fatimatuz Zahra (Ning Imaz), menegaskan bahwa keteladanan tidak lahir dari popularitas atau viralitas di media sosial. Sosok yang viral, menurutnya, belum tentu mampu menjadi teladan.

” Kalau karena viral, kita masih bisa kecewa kalau tiba-tiba sosok yang viral itu menimbulkan kontroversi,” kata Ning Imaz saat tampil bersama suaminya, Gus Rifqil Muslim Suyuthi, dalam Majelis Subuh GenZI (MSG) episode ke-28 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Ahad Subuh.

Di hadapan ratusan GenZI, Ning Imaz mengatakan keteladanan tidak bisa dipaksakan, melainkan tumbuh dari kebiasaan baik dan kedalaman ilmu.

“Kalau karena quote, banyak yang nggak kenal banget. Bisa saja seseorang terlihat baik karena ada sorotan kamera, tetapi ketika sendirian kembali ke watak aslinya. Itu bukan teladan,” ujarnya.

Menurutnya, teladan terbaik adalah Rasulullah SAW yang senantiasa memikirkan keselamatan dan kepentingan umat. Jika belum mampu meniru seluruh akhlak Rasulullah, setidaknya kasih sayang dan kepeduliannya kepada sesama dapat diwujudkan melalui kebiasaan berbagi.

Ning Imaz juga mengingatkan derasnya arus informasi di media sosial justru dapat membuat orang bingung membedakan mana yang benar-benar ilmu dan mana yang sekadar viral. Karena itu, ilmu yang tertanam dalam diri dan menjadi ikatan batin akan menjadi “cahaya” yang menuntun seseorang pada kebaikan.

Sementara itu, pendakwah milenial Gus Rifqil menekankan bahwa salah satu ciri utama sosok teladan adalah konsisten dalam kebaikan.

“Kalau konsisten berarti dia baik beneran, sehingga bisa menjadi teladan,” katanya.

Ia menyoroti fenomena jarkoni—“ujar tapi nggak ngelakoni”—yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, orang tua melarang anak bermain HP, tetapi dirinya sendiri terus menggunakan HP di depan anak.

“Teladan itu bukan sekadar apa yang kita katakan, tetapi apa yang kita lakukan secara konsisten,” tegas Gus Rifqil.

Menurutnya, keteladanan bahkan harus dimulai dari diri sendiri. Nabi Muhammad SAW, misalnya, dikenal sebagai Al-Amin jauh sebelum kenabiannya, karena kejujuran yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Teladan itu bukan karena popularitas atau viral. Teladan adalah sosok yang konsisten atau istiqamah melakukan kebaikan bagi dirinya sendiri, lalu kebaikan itu ditiru orang lain hingga menjadi kebiasaan,” pungkasnya.

Headline

KaMedia – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mendorong perubahan cara kerja birokrasi. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pun menyiapkan aparatur sipil negara (ASN) agar tidak sekadar mampu menggunakan teknologi, tetapi juga…