KaMedia – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 membawa lebih dari sekadar cerita perjalanan dan swafoto. Di balik padatnya destinasi wisata, denyut ekonomi Jawa Timur ikut bergetar kuat. Pergerakan wisatawan selama libur Nataru tercatat menembus 19,8 juta perjalanan, mengalirkan peluang usaha dan penghidupan bagi jutaan pelaku ekonomi lokal.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut capaian ini sebagai sinyal positif bahwa Jawa Timur tetap menjadi magnet utama wisata nasional, bahkan di tengah persaingan destinasi yang kian ketat.
“Alhamdulillah, Jawa Timur tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk berlibur saat Nataru. Jumlahnya justru terus meningkat,” ujar Khofifah di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (6/1/2026).
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur mencatat, hingga 4 Januari 2026, kunjungan wisatawan ke destinasi wisata Jatim mencapai 10.004.117 orang. Dari jumlah tersebut, wisatawan nusantara mendominasi dengan 9.979.142 orang, sementara wisatawan mancanegara tercatat 26.035 orang.
Bagi Jawa Timur, angka ini bukan sekadar statistik kunjungan. Setiap wisatawan berarti hotel terisi, warung ramai, pemandu wisata bekerja, transportasi bergerak, dan UMKM hidup.
“Kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara ini menunjukkan tren yang sangat baik, apalagi ditopang infrastruktur jalan tol yang kini terkoneksi dengan optimal,” jelas Khofifah.
Ia mencontohkan, perjalanan dari Surabaya ke Pantai Boom Banyuwangi atau kawasan Ijen kini bisa ditempuh sekitar lima jam lewat tol. Sementara Malang Raya, salah satu jantung wisata Jatim dapat dijangkau hanya dalam satu hingga satu setengah jam. Akses yang semakin mudah ini, menurut Khofifah, berbanding lurus dengan perputaran ekonomi daerah.
Selama libur Nataru, destinasi wisata favorit wisatawan mancanegara masih didominasi wisata alam kelas dunia, seperti Air Terjun Tumpak Sewu, kawasan Bromo Tengger Semeru, Teras Semeru, Taman Nasional Baluran, hingga Florawisata San Terra di Malang.
Sementara wisatawan nusantara memilih destinasi yang lebih ramah keluarga dan ikonik, seperti Kebun Binatang Surabaya, Telaga Sarangan, Desa Wisata Sidomulyo Kota Batu, hingga Monumen SLG dan Gronjong Wariti di Kediri.
Tak hanya destinasi unggulan, pantai-pantai, taman nasional, hingga kawasan pegunungan seperti Bromo dan Ijen tetap menjadi primadona yang menghidupkan ekonomi warga sekitar. Gubernur Khofifah mengapresiasi peran aktif para bupati dan wali kota yang terus melakukan penataan kawasan wisata agar wisatawan merasa aman dan nyaman. Menurutnya, rasa aman adalah modal penting agar wisatawan datang kembali dan membelanjakan lebih banyak di daerah.
Ke depan, Pemprov Jawa Timur berkomitmen memperkuat promosi wisata sekaligus memperluas dampak ekonomi, khususnya dengan menyasar wisatawan mancanegara. Sinergi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga akan diperkuat untuk menghadirkan paket wisata terintegrasi.
“Kita tidak hanya menjual destinasi, tapi juga pengalaman. Ketika pariwisata bergerak, ekonomi rakyat ikut tumbuh,” pungkas Khofifah.











