HeadlineKesehatanPemerintahanSidoarjo

Diskominfo Sidoarjo Pasang Garda Depan Lawan HIV/AIDS, Hoaks dan Misinformasi Jadi Target Utama

×

Diskominfo Sidoarjo Pasang Garda Depan Lawan HIV/AIDS, Hoaks dan Misinformasi Jadi Target Utama

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Diskominfo Sidoarjo, Anita Inggit Zarnuris Shofa / Foto : Fifin Jun.

KaMedia – Meningkatnya kasus HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo tidak hanya menjadi tantangan di sektor kesehatan, tetapi juga menjadi ujian serius dalam penyebaran informasi yang benar kepada masyarakat. Di tengah maraknya hoaks dan stigma yang masih melekat terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sidoarjo memastikan diri berada di garis depan perang melawan misinformasi.

Diskominfo menegaskan komitmennya untuk menghadirkan informasi yang valid, akurat, dan terverifikasi terkait bahaya HIV/AIDS sekaligus memberikan pemahaman yang benar mengenai pola penularannya. Langkah ini dinilai penting agar masyarakat tidak terjebak dalam ketakutan berlebihan maupun informasi sesat yang justru memperburuk penanganan kasus.

Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Diskominfo Sidoarjo, Anita Inggit Zarnuris Shofa, mengatakan tingginya angka kasus HIV/AIDS harus menjadi perhatian bersama seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Karena itu, setiap OPD didorong mengambil peran sesuai tugas dan fungsinya dalam upaya menekan laju penyebaran HIV/AIDS di Kota Delta.

“Tidak hanya Diskominfo, seluruh OPD digerakkan sesuai rekomendasi perannya untuk mengurangi tingginya kasus HIV/AIDS yang ada di Sidoarjo,” ujar Anita, Selasa (24/6/2026).

Menurutnya, Diskominfo akan memperkuat strategi komunikasi publik melalui penyebaran informasi yang tepat sasaran, mudah dipahami masyarakat, dan berbasis data yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Diskominfo akan memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar-benar terverifikasi terkait bahaya virus HIV/AIDS. Edukasi yang tepat menjadi kunci agar masyarakat memahami persoalan ini secara utuh,” tegasnya.

Sebagai garda terdepan komunikasi publik, Diskominfo juga menaruh perhatian serius terhadap maraknya hoaks yang kerap memicu kepanikan dan melahirkan stigma negatif terhadap ODHA. Padahal, stigma dan diskriminasi menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya pencegahan maupun pengobatan HIV/AIDS.

Untuk itu, Diskominfo bersama Dinas Kesehatan terus memperkuat edukasi dan literasi digital melalui berbagai kanal komunikasi publik. Tujuannya jelas, membangun masyarakat yang lebih paham, lebih peduli, dan tidak mudah termakan informasi menyesatkan terkait HIV/AIDS.

“Edukasi dan literasi digital terus kami lakukan bersama Dinas Kesehatan melalui berbagai kanal komunikasi publik,” pungkas Anita.