KaMedia – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Kementerian Pertanian (Kementan) RI memperkuat kolaborasi untuk mengembangkan benih kedelai unggul sebagai bagian dari upaya mempercepat swasembada kedelai nasional.
Kerja sama tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan lahan seluas 56 hektare milik Unesa. Lahan itu akan menjadi lokasi riset dan pengembangan benih kedelai dengan dukungan sarana produksi dari Kementan.
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaimann mengatakan, kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk mempercepat tercapainya swasembada kedelai.
Hal itu disampaikan Amran saat menghadiri Wisuda ke-121 Unesa di Graha Unesa, Kampus II Lidah Wetan, Surabaya, Rabu (12/8/2026).
“Kita langsung tanda tangan MoU tadi. Kemudian kita tindak lanjuti kedelai. Kedelai punya lahan Unesa 56 hektare” ujarnya.
Dalam kerja sama tersebut, Kementan memberikan dukungan berupa benih, traktor, dan sarana produksi lainnya. Tim dosen dan peneliti Unesa akan mengembangkan sekaligus menguji benih kedelai untuk mendapatkan varietas dengan produktivitas tinggi.
Amran mengatakan, produktivitas yang diharapkan berada pada kisaran 3,5 hingga 5 ton per hektare. Bahkan, pengembangan benih unggul tersebut ditargetkan dapat mencapai produktivitas lebih tinggi.
” Kalau produksinya insyaallah bisa 4 ton, 5 ton, minimal 3,5 ton per hektare, semua bibit yang 56 hektare kami (Kementan) beli,” ujar Amran.
Dengan luasan 56 hektare, pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi proyek riset, tetapi juga menghasilkan benih yang dapat dimanfaatkan lebih luas oleh petani.
Benih unggul hasil produksi Unesa nantinya akan diserap pemerintah dan diperuntukkan bagi masyarakat, khususnya di Jawa Timur. Langkah ini diharapkan dapat membantu meningkatkan produksi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor.
Kementan juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi dalam program penguatan ketahanan pangan. Perguruan tinggi memiliki fokus masing-masing, seperti IPB pada pengembangan benih padi dan ITS pada benih jagung.
Menurut Amran, keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pangan nasional.
Ia menilai konsep triple helix, pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pelaku usaha, dan akademisi sebagai penghasil inovasi, dapat menjadi fondasi untuk memperkuat swasembada dan ketahanan pangan Indonesia.
“Kita harus bangga dengan produk-produk perguruan tinggi,” kata Amran.
Kerja sama Unesa dan Kementan tidak hanya berfokus pada riset benih. Mahasiswa juga akan dilibatkan melalui program pembelajaran berbasis pengalaman, termasuk magang berdampak di sektor pertanian.
Mahasiswa nantinya dapat belajar secara langsung di lapangan sekaligus berkolaborasi dengan petani untuk mendorong peningkatan produktivitas pertanian.
“Kita sudah bicarakan, tinggal menunggu Pak Rektor, yang magang empat bulan itu nanti bobotnya berapa SKS-nya,” ujar Amran.
Skema tersebut diharapkan membuat mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik, tetapi juga memahami persoalan pertanian secara langsung.
Rektor Unesa Nurhasan atau akrab dipanggil Cak Hasan menyatakan pihaknya siap menjalankan kerja sama tersebut. Ia mengapresiasi kepercayaan Kementan yang memberikan ruang bagi Unesa untuk berkontribusi dalam program strategis ketahanan pangan nasional.
Sebelum fokus pada kedelai, Unesa juga telah terlibat dalam pengembangan komoditas pertanian, salah satunya jagung di Jawa Timur.
Saat ini, Unesa memperkuat riset di bidang ketahanan pangan dengan menyiapkan proposal penelitian. Pengembangan benih kedelai menjadi salah satu fokus utama tim peneliti untuk menghasilkan varietas unggul dengan produktivitas tinggi.
” Kami berharap penelitian ini dapat terus berlanjut sehingga memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ketahanan pangan nasional. Ini menjadi pekerjaan rumah sekaligus tantangan besar bagi kami.”.lanjut Cak Hasan
Cak Hasan juga mengatakan Unesa akan mengerahkan sumber daya akademik yang dimiliki untuk menemukan benih kedelai terbaik dan menghasilkan produktivitas sesuai target.
Kolaborasi Unesa dan Kementan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat mempertemukan kekuatan riset perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata sektor pertanian. Dengan dukungan lahan, sarana produksi, riset, dan keterlibatan mahasiswa, pengembangan kedelai di Unesa diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat produksi kedelai nasional.











