JatimSurabaya

Yenny Wahid: Gus Dur Menghormati Perempuan, Menjaga Perbedaan, dan Membela Wong Cilik

×

Yenny Wahid: Gus Dur Menghormati Perempuan, Menjaga Perbedaan, dan Membela Wong Cilik

Sebarkan artikel ini
Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid saat menghadiri Haul Ke-16 Gus Dur di Taman Bungkul Surabaya / Foto : Ist

KaMedia – Sosok Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali dikenang bukan hanya sebagai pembela pluralisme dan pelindung kelompok minoritas, tetapi juga sebagai figur yang menghormati perempuan dan memuliakan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu ditegaskan putri Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, dalam Haul ke-16 Gus Dur di Taman Bungkul, Surabaya, Kamis malam (19/12).

“Banyak kelompok agama lain merasa dilindungi oleh sikap Bapak yang menghormati perbedaan. Tapi Gus Dur juga punya keistimewaan lain, yakni menghormati perempuan,” ujar Yenny di hadapan ribuan jamaah haul yang digelar Barisan Kader (Barikade) Gus Dur Jawa Timur.

Yenny membuka orasinya dengan melantunkan Sholawat Fatih, seraya berharap bangsa Indonesia senantiasa diberi keteduhan dan keselamatan. Ia kemudian mengenang nilai-nilai yang ditanamkan Gus Dur tentang kemanusiaan dan kesetaraan.

Menurut Direktur Wahid Institute tersebut, Gus Dur memahami betul bahwa perbedaan adalah kehendak Tuhan. Bahkan, tidak ada satu pun manusia yang benar-benar sama di muka bumi.

“Penduduk bumi ini delapan miliar, tak ada yang sama. Sidik jari pun berbeda. Kalau Tuhan mau, semua bisa satu agama. Tapi keindahan justru ada dalam perbedaan,” tutur Yenny, mengutip ajaran ayahandanya.

Lebih jauh, Yenny menuturkan sisi personal Gus Dur dalam menghormati perempuan. Ia menyebut, Gus Dur tidak pernah membedakan peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga.

“Ibu pernah bercerita, waktu saya masih bayi, Bapak yang menggendong saya, mengantar ke ibu untuk disusui, mencuci popok, mencuci piring. Bapak tidak melihat siapa laki-laki atau perempuan, tapi siapa yang hidupnya membawa manfaat,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Gus Dur juga dikenal sebagai pemimpin yang membela wong cilik. Yenny mengingat bagaimana sang ayah memperjuangkan kenaikan gaji pegawai rendahan saat menjabat Presiden, termasuk pasukan pengamanan presiden.

“Haul ini bukan sekadar berharap barokah, tetapi meneladani Gus Dur. Tiga hal penting dari beliau adalah menghormati perbedaan, menghormati perempuan, dan menghargai wong cilik. Inti hidup adalah hidup yang bermanfaat,” tandasnya.

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Sekdaprov Jatim Akhmad Jazuli, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa gelar Pahlawan Nasional bagi Gus Dur sejatinya hanya pengakuan formal.

“Jauh sebelum gelar itu diberikan, Gus Dur sudah menjadi pahlawan bagi rakyat kecil dan kelompok yang merasa dilindungi,” ujarnya.

Kesaksian serupa disampaikan Pdt Simon Filantropa (GKI) yang menyebut Gus Dur sebagai “pahlawan pribadi”. Ia mengaku setiap Desember selalu diliputi perasaan campur aduk.

“Desember itu Natal, tapi juga bulan wafatnya Gus Dur. Beliau mengajarkan bahwa perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi, dan demokrasi hanya bisa hidup jika hak minoritas dijamin,” katanya.

Haul ke-16 Gus Dur di Surabaya turut dihadiri sejumlah tokoh lintas agama dan tokoh nasional, di antaranya Anggota DPD RI Lia Istifhama, Wakil Katib Syuriah PWNU Jatim KH Ilhamullah Sumarkan, serta jajaran Barikade Gus Dur. Rangkaian haul selanjutnya dijadwalkan digelar di Ciganjur, Jakarta Selatan, dengan menghadirkan Nyai Sinta Nuriyah Wahid dan para tokoh bangsa lintas iman.