KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memimpin langsung Gerakan Panen dan Percepatan Tanam di Desa Gading, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jumat (8/5). Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Jawa Timur tidak hanya mempertahankan status sebagai lumbung pangan nasional, tetapi juga mulai membidik pasar ekspor beras dunia.
Di tengah ketidakpastian global dan ancaman perubahan iklim, Khofifah menegaskan bahwa Jawa Timur harus menjadi motor utama kedaulatan pangan nasional yang berkelanjutan.
“Tidak sekadar bagaimana kita memaksimalkan produksi padi dan beras di Jawa Timur, tapi juga kita ingin menjadi bagian yang bisa membawa Indonesia bukan hanya berketahanan pangan, tapi berkedaulatan pangan berkelanjutan,” tegas Khofifah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan performa pertanian Jawa Timur terus menanjak. Pada 2025, luas panen mencapai 1,84 juta hektare dengan produksi padi menembus 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 12,60 persen dibanding tahun sebelumnya.
Tak berhenti di situ, berdasarkan rilis BPS per 4 Mei 2026, produksi padi Jawa Timur pada periode Januari–Juni 2026 diprediksi mencapai 6,62 juta ton GKG atau meningkat sekitar 5,28 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Khofifah optimistis tren positif tersebut menjadi bukti bahwa sektor pertanian Jawa Timur tetap tangguh di tengah tantangan global.
“Insya Allah Jawa Timur tetap menjadi tumpuan bagaimana ketahanan pangan program Pak Presiden Prabowo bisa diwujudkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Khofifah, surplus beras yang terus terjaga bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga berkaitan erat dengan pertahanan dan keamanan negara. Bahkan, kondisi surplus yang dimiliki Jawa Timur diyakini cukup menjaga pasokan hingga tahun depan dan membuka peluang besar untuk ekspor beras ke mancanegara.
Untuk memperkuat langkah itu, Pemprov Jatim terus mendorong modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan). Penggunaan teknologi seperti transplanter, rotavator, drone sprayer hingga combine harvester dinilai mampu menarik minat generasi muda agar mau terjun ke sektor pertanian.
“Saya rasa ini sangat friendly dengan anak-anak muda sehingga mereka tidak semua ke kota, tapi juga menjadi bagian dari penguat sektor pertanian,” katanya.
Pemprov Jatim sendiri telah menyiapkan sejumlah strategi percepatan kedaulatan pangan, mulai dari percepatan tanam menggunakan benih unggul tahan kekeringan, optimalisasi alsintan, pola tanam adaptif berbasis teknologi, penguatan sistem irigasi hingga sistem pelaporan cepat jika terjadi bencana maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Khofifah pun memberikan apresiasi khusus kepada para petani dan kelompok tani yang menjadi ujung tombak ketahanan pangan nasional.
“Panjenengan semua ini pahlawan-pahlawan pangan yang luar biasa. Para petani dan Gapoktan menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi dengan produksi pangan tertinggi di Indonesia,” ucapnya.
Senada dengan itu, Plh Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Tin Latifah menyebut Jawa Timur menjadi kontributor penting dalam target nasional penanaman 16 juta hektare lahan pertanian.
Hingga Mei 2026, Jawa Timur telah menyumbang sekitar 238 ribu hektare dari target nasional 1,7 juta hektare. Ia optimistis target kenaikan produksi 5 persen bisa tercapai asalkan mitigasi kekeringan dan serangan hama dilakukan maksimal.
“Kami sangat yakin Provinsi Jawa Timur ini peningkatan produksinya yang diprediksi 5 persen akan tercapai,” katanya.
Sementara itu, Bupati Madiun Hari Wuryanto memastikan daerahnya siap menjadi garda terdepan menjaga surplus beras Jawa Timur.
Kabupaten Madiun sendiri menjadi salah satu sentra produksi padi terbesar di Jawa Timur. Pada 2025, luas panen mencapai 82.826 hektare dengan produksi sekitar 480 ribu ton GKG dan produktivitas rata-rata 5,80 ton per hektare. Bahkan di sejumlah wilayah, produktivitas mampu menembus 7 ton per hektare.
Dalam kesempatan tersebut, Pemprov Jawa Timur juga menyerahkan bantuan alsintan berupa tiga unit hand traktor singkal, empat unit cultivator, enam unit combine harvester besar, dan satu unit rotavator kepada kelompok tani di Kecamatan Balerejo sebagai upaya mempercepat modernisasi pertanian di daerah.











