KaMedia – Kemenangan Persid Jember atas Persida Sidoarjo dengan skor 2-1 pada babak 16 besar Liga 4 Kapal Api Grup KK di Stadion Sport Garden Jawa Timur, Senin (19/1), justru menyisakan bara panas. Di balik hasil pertandingan, kubu Persida Sidoarjo melontarkan kritik keras terhadap panitia pelaksana (panpel) yang dinilai gagal total menjamin profesionalisme dan keamanan laga.
Sejak pertandingan berlangsung, official Persida mengaku merasakan banyak kejanggalan. Mereka menilai panpel tuan rumah tidak siap dan lalai menjalankan standar penyelenggaraan pertandingan penting sekelas fase 16 besar.
“Kami sangat kecewa. Ini pertandingan resmi, tapi pengelolaannya jauh dari kata profesional,” ungkap salah satu official Persida dengan nada geram.
Pelatih Persida Sidoarjo Chodari Amir, tetap mengapresiasi perjuangan anak asuhnya yang dinilai telah menjalankan strategi sesuai instruksi meski harus menelan kekalahan tipis.
“Anak-anak sudah berjuang maksimal,” ujarnya singkat.
Namun saat disinggung soal kepemimpinan wasit, Chodari memilih irit bicara. Pernyataannya justru menyiratkan kekecewaan mendalam.
“Kalian lihat sendiri seperti apa pertandingan tadi,” ucapnya, tanpa menambahkan penjelasan lebih jauh.
Drama tak berhenti di atas lapangan. Insiden serius justru terjadi usai pertandingan. Official Persida mengungkapkan bahwa bus yang membawa pemain Laskar Jenggolo dilempari batu oleh oknum suporter Persid Jember saat rombongan kembali ke hotel.
“Tidak ada pengamanan dari panitia untuk tim tamu. Untung kami selamat. Saat perjalanan pulang ke hotel, bus pemain kami dilempari batu,” ungkap official Persida.
Insiden ini memicu tanda tanya besar terkait tanggung jawab panpel dan pengamanan laga. Pertandingan resmi federasi seharusnya menjamin keselamatan seluruh elemen tim, termasuk ofisial dan pemain tamu. Fakta bahwa bus tim tamu bisa menjadi sasaran pelemparan menunjukkan lemahnya pengamanan dan potensi pembiaran.
Kemenangan Persid Jember pun tercoreng oleh insiden di luar lapangan. Alih-alih menjadi pesta sepak bola, laga ini justru meninggalkan catatan hitam soal keselamatan, sportivitas, dan kualitas penyelenggaraan kompetisi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari panitia pelaksana maupun pihak Persid Jember terkait tudingan kegagalan pengamanan dan insiden pelemparan bus tersebut.
Jika kejadian ini tidak dievaluasi secara serius, Liga 4 berisiko berubah dari ajang pembinaan sepak bola menjadi panggung kekacauan, di mana tim tamu bertanding dengan rasa waswas, bukan semangat fair play.











