HeadlineJatim

Tiga Bulan yang Membekas: Surabaya dalam Ingatan Kolonel Andi Sinaga

×

Tiga Bulan yang Membekas: Surabaya dalam Ingatan Kolonel Andi Sinaga

Sebarkan artikel ini
Kolonel Inf Andi Sinaga / Foto : Hermawan.

KaMedia – Tak semua perpisahan terasa ringan, meski waktunya singkat. Bagi Kolonel Inf Herbert Andi Amino Sinaga, tiga bulan bertugas sebagai Kepala Penerangan Kodam V/Brawijaya di Surabaya meninggalkan jejak yang dalam cukup untuk dikenang, cukup untuk dirindukan.

Kini, perwira alumni Akabri 2001 itu bersiap melanjutkan pengabdian baru. Surabaya ia tinggalkan, namun cerita tentang kota ini ia bawa sebagai bagian dari perjalanan panjangnya sebagai prajurit.

Sebelum singgah di Kodam V/Brawijaya, Kolonel Andi Sinaga telah menapaki beragam medan tugas. Kodam Iskandar Muda, Siliwangi, Merdeka, hingga Kodam Jaya pernah menjadi tempat ia mengabdi. Jabatan pun ia jalani bertahap, dari komandan kompi hingga dipercaya memegang posisi strategis seperti komandan distrik militer (Dandim).

Sebagai perwira kelahiran Aceh Tamiang, ia juga kenyang pengalaman di satuan Kostrad, baik di Singosari maupun di Sulawesi. Tanah kelahirannya menyimpan kenangan paling awal sekaligus paling emosional dalam karier militernya.

“Penugasan pertama saya ada di batalyon di Aceh Tamiang. Namun mengalami musibah banjir bandang November 2025 lalu,” tuturnya lirih, mengenang awal pengabdian yang tertimpa musibah bencana.

Meski hanya tiga bulan berada di Surabaya, kota ini memberi ruang bagi cerita-cerita kecil yang bermakna. Perwira berdarah Batak yang besar di Sumatra itu mengaku menemukan kecocokan dengan karakter masyarakat Surabaya yang lugas, terbuka, dan apa adanya.

“Saya orang Sumatra, berdarah Batak. Tapi di Surabaya, saya merasa nyambung. Cara bicaranya tegas, lugas, seperti saya,” katanya sambil tersenyum.

Bagi Kolonel Andi Sinaga, setiap tempat tugas selalu mengajarkan satu hal yang sama: kemampuan beradaptasi dan menghormati nilai setempat. Prinsip itu ia pegang teguh sejak awal karier hingga kini menyandang tiga melati di pundaknya.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itu pegangan saya sebagai prajurit,” ujarnya.

Surabaya mungkin hanya persinggahan singkat dalam lintasan tugasnya. Namun seperti banyak kota lain yang pernah ia singgahi, Surabaya menjadi bagian dari mosaik pengabdian tempat singkat berlabuh, namun cukup lama tinggal di ingatan.