HeadlineJatim

Menguatkan Ibu, Menyelamatkan Generasi: Langkah Humanis Kemendukbangga/BKKBN Jatim

×

Menguatkan Ibu, Menyelamatkan Generasi: Langkah Humanis Kemendukbangga/BKKBN Jatim

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Pagi itu, halaman Kantor Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Jawa Timur tak hanya dipenuhi barisan aparatur sipil negara yang berseragam rapi. Ada semangat lain yang ikut berdiri tegak—semangat untuk berbagi dan harapan agar anak-anak Jawa Timur tumbuh lebih sehat di masa depan.

Melalui Apel Senin bertajuk “ASN Peduli–Berbagi”, Senin (5/1/2026), Kemendukbangga/BKKBN Jatim menegaskan satu tekad bersama: penurunan stunting menjadi prioritas utama tahun 2026. Bukan sekadar target angka, tetapi ikhtiar kemanusiaan yang menyentuh kehidupan keluarga paling rentan.

Apel perdana di awal tahun itu dipimpin langsung oleh Pelaksana Harian Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Jatim, Sukamto. Dalam arahannya, ia berbicara lugas, namun sarat kepedulian. Ia mengingatkan bahwa kerja BKKBN bukan hanya urusan administrasi dan laporan, melainkan tentang masa depan ibu dan anak.

“Program prioritas Presiden, termasuk Makan Bergizi Gratis, harus benar-benar kita kawal. Terutama untuk sasaran 3B—ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD,” ujar Sukamto.

Angka stunting Jawa Timur yang kini berada di 14,7 persen memang menunjukkan penurunan. Namun di balik angka itu, masih ada kenyataan yang tak bisa diabaikan. Di beberapa kabupaten dan kota, prevalensi stunting masih bertahan di atas 29 persen, bahkan menembus 30 persen.

“Kalau kita bedah per daerah, masih banyak pekerjaan rumah. Karena itu data Tim Pendamping Keluarga di lapangan harus terus diperbarui agar intervensi tepat sasaran,” katanya.

Bagi Sukamto, kolaborasi adalah kunci. Ia mengajak seluruh jajaran BKKBN untuk merajut sinergi dengan kementerian dan lembaga lain, demi menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045. Namun, visi besar itu ia turunkan dalam langkah-langkah kecil yang nyata.Salah satunya melalui program ASN Peduli–Berbagi.

Tak jauh dari kantor BKKBN Jatim, beberapa keluarga hidup dalam keterbatasan dan masuk kategori keluarga risiko stunting. Pagi itu, mereka menerima bingkisan sederhana: beras, gula, mi instan, dan kebutuhan penunjang gizi lainnya. Nilainya mungkin tak besar, tetapi maknanya terasa hangat.

“Ini bagian dari quick win. Setidaknya kita hadir dan membantu meringankan beban mereka,” kata Sukamto.

Di antara penerima bantuan, Maharani berdiri sambil mengelus perutnya yang membesar. Ia tengah mengandung anak keempat. Kisah hidupnya menyimpan luka: dua kali keguguran, satu anak yang meninggal dunia. Bantuan sembako itu ia terima dengan mata berkaca-kaca.

“Tadi saya dapat beras, gula, mi goreng. Alhamdulillah, sangat membantu,” ucapnya pelan.

Maharani berharap kehamilan kali ini berjalan lancar. Ia juga berharap kepedulian seperti ini terus hadir, terutama bagi warga kecil yang tinggal di sekitar kantor BKKBN.

“Semoga BKKBN terus membantu masyarakat seperti kami,” katanya.

Di situlah makna apel pagi itu terasa utuh. Di balik barisan ASN, ada anak-anak yang sedang diperjuangkan hak tumbuhnya. Di balik data dan persentase, ada ibu-ibu yang menggantungkan harapan pada kepedulian negara.