HeadlineJatim

Skripsi Yang Tak Pernah Selesai, Dua Praja IPDN Gugur di Jalan Basah Porong

×

Skripsi Yang Tak Pernah Selesai, Dua Praja IPDN Gugur di Jalan Basah Porong

Sebarkan artikel ini
2 korban tabrak lari di arteri Porong Sidoarjo teridentifikasi sebagai Praja Utama dari IPDN / Foto : Ist

KaMedia– Hujan turun deras sore itu. Jalan Arteri Porong basah, langit kelabu, dan lalu lintas bergerak pelan. Tak ada yang menyangka, di balik derasnya hujan Kamis (15/1/2026), dua mimpi besar tentang pengabdian bangsa berakhir di atas aspal.

Adinata Putra Ali R dan Adzra Sybil Alvina, sama-sama berusia 23 tahun, adalah praja tingkat akhir Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Mereka sedang berada di Sidoarjo bukan untuk berlibur, melainkan mengejar satu tahap terakhir sebelum menyandang gelar dan amanah sebagai abdi negara, menyelesaikan skripsi.

Sore itu, keduanya mengendarai sebuah sepeda motor Honda Megapro hitam bernopol W 5596 QL. Mereka melaju dari arah Surabaya menuju Malang. Mungkin sambil berbincang tentang revisi skripsi, tentang rencana setelah lulus, atau tentang keluarga yang menunggu dengan bangga di rumah. Namun sekitar pukul 16.10 WIB, tepat di selatan lampu lalu lintas Desa Pamotan, Porong, perjalanan itu berubah menjadi akhir yang sunyi dan kejam.

Benturan keras terjadi. Hujan menelan suara jerit. Dan kendaraan yang menabrak, diduga roda empat pergi begitu saja, meninggalkan dua tubuh tergeletak di jalan basah.

Tak ada pertolongan pertama dari pelaku.
Tak ada kata maaf. Hanya hujan, aspal, dan dua seragam yang tak lagi bergerak. Adinata adalah putra Dusun Karangpoh, Desa Ponokawan, Krian. Anak yang dibesarkan dengan harapan besar agar kelak mengabdi untuk negara.

Adzra berasal dari Desa Urangagung, Kecamatan Sidoarjo Kota. Seorang anak perempuan yang memilih jalan keras pendidikan kedinasan, jalan disiplin, pengabdian, dan pengorbanan.

Kini, keduanya pulang dalam diam. Di RS Pusdiklat Sabhara Porong, kabar duka itu mengeras menjadi kenyataan. Nama mereka tercatat bukan sebagai mahasiswa yang sedang menuntaskan skripsi, tetapi sebagai korban kecelakaan maut.

Kapolsek Porong, Kompol Madya Wiraaji Kusuma, membenarkan peristiwa tragis itu. Polisi masih menyelidiki dan memburu pelaku tabrak lari. Rekaman CCTV dikumpulkan. Bukti ditelusuri. Namun bagi keluarga, jawaban apa pun tak akan pernah cukup. Yang tersisa adalah kamar kosong di rumah.

Buku skripsi yang tak pernah ditutup.
Telepon yang tak lagi berdering. IPDN kembali berduka. Dua praja yang seharusnya segera dilantik, mengenakan seragam kehormatan, dan berdiri tegap sebagai aparatur negara, kini berbaring untuk selamanya.

Di Porong, kendaraan kembali melintas. Lampu lalu lintas kembali berganti warna. Hujan berhenti. Namun bagi orang tua Adinata dan Adzra, waktu berhenti di Kamis sore itu. Mereka tak meminta anaknya jadi pahlawan. Mereka hanya ingin anaknya pulang.Dan kali ini,.pulangnya terlalu cepat