HeadlinePemerintahan

Setahun Mengabdi, Menyapa Dari Hati: Kisah Hangat Di Balik Pintu Grahadi

×

Setahun Mengabdi, Menyapa Dari Hati: Kisah Hangat Di Balik Pintu Grahadi

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Sore itu, halaman Gedung Negara Grahadi tak sekadar menjadi saksi agenda seremonial. Di antara pilar-pilar bangunan bersejarah di jantung Surabaya, senyum anak-anak yatim dan para pengemudi ojek online (ojol) merekah, menyambut uluran tangan yang datang tepat setahun setelah pelantikan kepemimpinan baru Jawa Timur.

Tanggal 20 Februari menjadi penanda genap satu tahun sejak Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak dilantik oleh Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025. Namun bagi Khofifah, hitungan waktu bukanlah inti perayaan.

“Saya tidak pernah terlalu terpaku pada hitungan hari,” tuturnya lembut. “Yang terpenting adalah kerja nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat.” lanjut Gubernur Khofifah.

Di ruang yang sama, 60 anak yatim menerima perlengkapan sekolah, tas baru, buku tulis, alat tulis yang masih beraroma pabrik. Bagi sebagian dari mereka, itu bukan sekadar barang, melainkan semangat untuk kembali menata mimpi. Di sudut lain, 40 pengemudi ojol, termasuk ojol perempuan dan penyandang disabilitas menggenggam paket sembako dengan mata berbinar.

Adrian Tobing, pengemudi ojol tuna rungu, menyampaikan terima kasih dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan singkat: rasa syukur dan doa agar Jawa Timur semakin jaya. Zaki, pengemudi ojol tuna daksa, menyelipkan harapan agar akses ramah disabilitas di ruang publik terus diperluas. Di balik rompi dan helm yang kerap diterpa panas dan hujan, ada cita-cita tentang kesetaraan yang ingin mereka lihat tumbuh di kota-kota Jawa Timur.

Momentum itu terasa semakin khidmat karena berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadan. Khofifah menautkan kerja pemerintahan dengan nilai ibadah, bahwa setiap kebijakan dan langkah pembangunan semestinya berujung pada kemaslahatan.

Memasuki tahun kedua, ia menegaskan fokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia: pendidikan yang lebih merata, layanan kesehatan yang semakin terjangkau, infrastruktur yang menyentuh hingga pelosok, serta percepatan penurunan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Baginya, pembangunan bukan sekadar angka statistik, melainkan wajah-wajah yang ditemui sore itu.

Sementara itu, Emil menyebut kepemimpinan Khofifah sebagai “dobel gardan”, mengawal program prioritas nasional sekaligus memastikan janji-janji pembangunan daerah tetap berjalan. Ia mencontohkan langkah-langkah perbaikan distribusi ijazah hingga perluasan koridor transportasi publik Trans Jatim sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan layanan yang lebih adil dan mudah diakses.

Namun di luar daftar capaian dan rencana kerja, suasana hangat di Grahadi itulah yang paling membekas. Ketika seorang anak kecil memeluk tas barunya erat-erat. Ketika seorang pengemudi ojol menunduk haru saat bersalaman. Ketika doa-doa dilangitkan, sederhana namun penuh harap.

Setahun kepemimpinan mungkin bisa dihitung dalam 365 hari. Tetapi bagi mereka yang hadir sore itu, maknanya terasa dalam genggaman, dalam paket sembako, dalam perlengkapan sekolah, dan dalam keyakinan bahwa pemerintah hadir, tak hanya lewat kebijakan, tetapi juga lewat sentuhan kemanusiaan.