EkonomiHeadlineJatim

Panen Jagung 50 Hektare di Banyuwangi, Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Pilar Kedaulatan Pangan Nasional

×

Panen Jagung 50 Hektare di Banyuwangi, Gubernur Khofifah Tegaskan Jatim Pilar Kedaulatan Pangan Nasional

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung memanen jagung hibrida di lahan seluas 50 hektare di Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (28/2). Panen ini menjadi penegasan sinergi aparat, organisasi kepemudaan, dan petani dalam memperkuat posisi Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional.

Kegiatan berlangsung di Pusat Pelatihan Pertanian Taruna Bumi, Green Farm, dan dihadiri Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Ketua Kwarda Pramuka Jatim, serta Ketua HKTI Jatim H.M. Arum Sabil.

Dari total 50 hektare lahan, sekitar 10 hektare telah memasuki masa panen dengan estimasi produktivitas 8–10 ton per hektare. Jagung yang dipanen merupakan varietas hibrida jenis Jenderal dengan sistem panen glondong. Tanaman tersebut ditanam pada 9 November 2025, menunjukkan siklus budidaya yang terencana dan disiplin.

Khofifah menilai kolaborasi antara Polda Jatim, Kwarda Pramuka Jatim, dan HKTI Jatim sebagai model konkret penguatan kedaulatan pangan daerah.

“Ini bukan seremonial. Ini bukti bahwa kerja bersama menghasilkan peningkatan produksi dan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” tegasnya.

Berdasarkan data BPS 2025, Jawa Timur tercatat sebagai produsen jagung terbesar nasional dengan total produksi 4,59 juta ton atau 28,39 persen dari produksi nasional. Luas panen mencapai 758.469 hektare, tertinggi di Indonesia.

Meski demikian, Khofifah mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat lengah. Tantangan perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, dan dinamika perdagangan global menuntut strategi pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.

“Kedaulatan pangan adalah bagian dari martabat bangsa. Produksi harus kuat, regenerasi petani harus berjalan, dan modernisasi pertanian tidak boleh ditunda,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran strategis Gerakan Pramuka dalam regenerasi petani. Keterlibatan anggota Pramuka dalam proses budidaya dari hulu hingga hilir dinilai sebagai investasi karakter sekaligus investasi ketahanan pangan.

Menurutnya, transformasi pertanian Jawa Timur harus ditopang inovasi: penggunaan benih unggul, irigasi efisien, mekanisasi, hingga digitalisasi pemasaran. Generasi muda, kata dia, harus didorong menjadi produsen inovasi, bukan sekadar pencari kerja.

Model sinergi antara kepolisian, organisasi kepemudaan, organisasi petani, dan pemerintah daerah ini diharapkan dapat direplikasi di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur.

“Panen hari ini adalah hasil kerja kolektif. Jika semua elemen bergerak dalam satu visi, kedaulatan pangan bukan slogan, melainkan gerakan nyata,” pungkas Khofifah.