HeadlineJatimNasional

PWNU Jatim dan PCNU Se-Jatim Usulkan 16 Masyayikh Masuk Tim AHWA

×

PWNU Jatim dan PCNU Se-Jatim Usulkan 16 Masyayikh Masuk Tim AHWA

Sebarkan artikel ini
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur menyepakati usulan 16 masyayikh dan ulama sepuh untuk menjadi calon anggota Tim Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang akan memilih Rais Aam Syuriyah PBNU dalam Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 / Foto : Humas PW NU Jatim.

KaMedia – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur menyepakati usulan 16 masyayikh dan ulama sepuh untuk menjadi calon anggota Tim Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang akan memilih Rais Aam Syuriyah PBNU dalam Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.

Selain itu, forum juga menugaskan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai kandidat Ketua Umum PBNU yang akan diusulkan dalam Muktamar.

Setelah beberapa kali rapat Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Jawa Timur serta rapat koordinasi dengan PCNU se-Jawa Timur pada 21 Juli 2026, kami sepakat mengusulkan 16 nama masyayikh untuk masuk Tim AHWA dan menugaskan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai kandidat Ketua Umum PBNU,” ujar Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir, di Surabaya, Rabu ( 22/7/2026) .

Ke-16 nama masyayikh yang diusulkan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, yakni KH Anwar Mansyur (Jawa Timur), KH Ma’ruf Amin (Banten), KH Nurul Huda (Jawa Timur), KH Mustofa Bisri (Jawa Tengah), KH Miftachul Akhyar (Jawa Timur), KH Anwar Iskandar (Jawa Timur), KH Afifuddin Muhajir (Jawa Timur), KH Said Aqil Siroj (DKI Jakarta), Tuan Guru KH Turmudzi (Nusa Tenggara Barat), KH Buya Muhtadin (Banten), KH Wildan (Kalimantan Selatan), Tengku KH Nailuzzahri (Aceh), KH Ubaidillah Shodaqoh (Jawa Tengah), KH Zaunul Abidin (Sulawesi Selatan), KH Khozien Adnen (Sumatera Barat), serta Syekh KH Ali Akbar Marbun (Sumatera Utara).

PWNU Jawa Timur juga mengusulkan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU yang lebih menekankan musyawarah dan kolaborasi. Dalam skema tersebut, PCNU mengusulkan sejumlah nama kandidat kepada Rais Aam. Selanjutnya, Rais Aam memilih salah satu kandidat dengan persetujuan Tim AHWA.

“Model ini diharapkan dapat meminimalisasi kompetisi yang berlebihan sekaligus memperkuat semangat kolaborasi dalam kepemimpinan PBNU,” kata KH Abdul Matin.

Ia menjelaskan, proses penyusunan usulan anggota AHWA dilakukan secara bertahap. Semula terdapat 27 nama ulama dari berbagai daerah yang dihimpun oleh PWNU Jawa Timur. Setelah melalui pembahasan di lingkungan Syuriyah PWNU Jawa Timur, daftar tersebut diseleksi menjadi 16 nama, kemudian disepakati bersama dalam rapat koordinasi dengan PCNU se-Jawa Timur pada 21 Juli 2026.

Selanjutnya, pada forum Muktamar, para muktamirin akan memilih 9 orang dari 16 nama tersebut untuk menjadi anggota Tim AHWA.

Menurut KH Abdul Matin, seluruh nama yang diusulkan telah memenuhi kriteria yang menjadi dasar pembentukan Tim AHWA, yakni memiliki kedalaman ilmu agama, integritas moral, sikap adil, tawadhu, pengaruh yang luas di kalangan umat, kemampuan menilai dan memilih pemimpin yang munazzhim (mampu menata organisasi) dan muharrik (mampu menggerakkan organisasi), serta dikenal memiliki sifat wara’ dan zuhud.

Dalam penyampaian hasil keputusan tersebut, KH Abdul Matin didampingi Tim PWNU Jawa Timur, Prof. Masykuri Bakri dan Prof. Kacung Marijan.