KaMedia – Sore itu, matahari bersinar hangat di Desa Kedensari, Kecamatan Tanggulangin. Di lahan seluas satu hektare, bulir-bulir jagung berwarna kuning keemasan siap dipanen. Suasana panen raya kuartal I 2026 ini tidak sekadar tentang produksi pangan, tetapi juga tentang sinergi, kerja sama, dan ketahanan pangan nasional.
Wakil Bupati Sidoarjo, Hj. Mimik Idayana, hadir di tengah-tengah petani bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto, dan Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing. Dengan alat sederhana, mereka ikut memanen jagung, menandai keberhasilan kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan kelompok tani setempat.
“Panen hari ini bukan hanya soal angka, tetapi tentang kepercayaan dan kerja sama. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen mendukung program ketahanan pangan nasional,” ujar Hj. Mimik Idayana, sambil tersenyum melihat petani membawa hasil panen ke goni-goni.
Salah satu petani, Suhadi, mengungkapkan rasa bangganya. Selama ini, penghasilan pertaniannya sering tidak pasti karena bergantung pada cuaca.
“Sekarang, dengan program kolaboratif ini, hasil panen kami pasti terserap Bulog. Anak-anak bisa sekolah, kebutuhan sehari-hari lebih aman,” katanya sambil menepuk bulir jagung yang baru dipetik.
Panen raya kali ini menghasilkan sekitar tiga ton jagung dari satu hektare lahan. Di Jawa Timur, panen serentak kuartal I akan berlangsung di 30 titik, dengan luas total 319,73 hektare dan estimasi produksi 2.174,16 ton.
Kombes Pol Ari Wibowo, Karo SDM Polda Jatim, menegaskan bahwa panen ini adalah hasil dari program pertanian kolaboratif yang sudah direncanakan sejak beberapa bulan lalu.
“Selain menambah pasokan pangan, kami juga memastikan keberlanjutan pertanian dengan persiapan lahan untuk musim tanam berikutnya,” jelas Ari.
Kapolresta Sidoarjo, Kombes Pol Christian Tobing, menambahkan bahwa jagung hasil panen akan diserap Bulog setelah dikeringkan.
“Ini bukti nyata bahwa sinergi antara Polri, TNI, pemerintah daerah, dan petani lokal bisa menjaga stabilitas pangan nasional. Kami berharap model ini bisa terus berkelanjutan,” katanya.
Lebih dari sekadar panen, kegiatan ini menjadi simbol harapan dan ketahanan pangan. Setiap bulir jagung yang dipanen adalah hasil kerja keras petani, dukungan aparat keamanan, dan arahan pemerintah.
Program ini tidak hanya menjaga pasokan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat kedaulatan pangan di tingkat lokal maupun nasional.
Di lahan Kedensari, di bawah sinar matahari sore, senyum petani yang memetik jagung seakan menjadi bukti bahwa ketahanan pangan bisa tumbuh dari sinergi, kerja keras, dan kepedulian bersama.











