EkonomiHeadlineSurabaya

Menuju PLTN Pertama Nasional, ITS–PLN Tegaskan Nuklir Bukan Opsi, Tapi Kebutuhan

×

Menuju PLTN Pertama Nasional, ITS–PLN Tegaskan Nuklir Bukan Opsi, Tapi Kebutuhan

Sebarkan artikel ini
General Manager PLN Puslitbang Ketenagalistrikan Mochammad Soleh ST MT IPM turut menyampaikan pidatonya dalam Capacity Building Awareness Nuklir 2026 / Foto : Humas ITS

KaMedia – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia memasuki fase krusial. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Institut Teknologi PLN (ITPLN) menegaskan pentingnya kesiapan publik, sumber daya manusia, dan kebijakan melalui forum Capacity Building Awareness Nuklir 2026 yang digelar di Auditorium Tower 2 ITS, Kamis (22/1).

Forum yang dihadiri para pakar lintas disiplin ini menempatkan energi nuklir secara tegas sebagai solusi strategis energi bersih nasional, bukan sekadar wacana. Diskusi difokuskan pada aspek keselamatan, teknologi, dan integrasi sistem kelistrikan guna menjawab tantangan transisi energi menuju net zero emission.

Wakil Rektor IV ITS Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian, Prof Ir Agus Muhamad Hatta ST MSi PhD, menyoroti hambatan utama pengembangan PLTN yang masih bertumpu pada rendahnya penerimaan publik.

“Masyarakat ingin manfaat energi nuklir, tapi menolak risikonya. Ini ironi yang harus diselesaikan dengan edukasi berbasis sains, bukan opini,” tegasnya.

Menurut Hatta, edukasi publik menjadi fondasi mutlak sebelum PLTN dioperasikan. Karena itu, ITS bersama ITPLN mengambil peran aktif membangun pemahaman objektif dan rasional terkait teknologi nuklir, termasuk aspek keselamatan yang selama ini kerap disalahpahami.

Ia menegaskan, Indonesia bukan negara yang tertinggal dalam kesiapan teknologi. Banyak negara telah membuktikan bahwa PLTN dapat dioperasikan secara aman dan andal.

“Indonesia memiliki kapasitas. Tugas kami di perguruan tinggi adalah menyiapkan talenta terbaik lintas disiplin untuk memastikan adopsi teknologi ini berjalan bertanggung jawab,” ujarnya.

Senada, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Usaha ITPLN, Dr Ir M Ahsin Sidqi MM IPU ASEAN Eng QRGP, menegaskan bahwa nuklir adalah langkah strategis dalam diversifikasi energi nasional.

“PLTN bukan hanya soal listrik, tapi soal ketahanan dan kemandirian energi. Tanpa diversifikasi, Indonesia akan terus bergantung pada sumber yang tidak stabil,” katanya.

Dari sisi operator, General Manager PLN Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan, Mochammad Soleh ST MT IPM, menilai kebutuhan Indonesia terhadap sumber energi bersih yang stabil sudah tidak bisa ditunda.

“Energi nuklir bersih, terkendali, dan mampu menopang sistem kelistrikan nasional. Ini relevan dan realistis,” tegas Soleh.

Ia mengingatkan bahwa arah kebijakan sudah jelas. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLTN ditargetkan mulai beroperasi pada periode 2032–2034.

“Waktu kita terbatas. Tanpa keterlibatan aktif akademisi, peneliti, dan masyarakat, target ini akan sulit tercapai,” pungkasnya.