KaMedia – Setiap pagi, ribuan warga Surabaya membuka keran di rumah mereka. Air mengalir lancar, cukup untuk mandi, mencuci, dan membersihkan rumah. Namun ketika rasa haus datang, banyak yang tetap melirik galon di sudut dapur atau air kemasan di warung dekat rumah. Air dari keran, meski jernih, belum sepenuhnya dipercaya untuk diminum langsung.
Fenomena inilah yang menjadi perhatian serius Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, Budi Leksono. Politisi yang akrab disapa Buleks ini menilai, sudah saatnya Surabaya melangkah lebih jauh: bukan hanya menyediakan air bersih, tetapi menghadirkan air yang benar-benar layak konsumsi langsung bagi warganya.
“Air sudah mengalir ke rumah-rumah warga, tapi untuk minum masih beli dari luar. Ini tidak praktis dan menjadi catatan penting,” ujar Buleks, Rabu (4/2).
Baginya, air bukan sekadar komoditas layanan publik, melainkan kebutuhan paling dasar yang menyentuh keseharian masyarakat. Karena itu, ia menaruh harapan besar pada proses pemilihan Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Surya Sembada Kota Surabaya, sebuah BUMD strategis yang selama ini menjadi tulang punggung penyediaan air di Kota Pahlawan.
Buleks menegaskan, pemimpin Perumdam ke depan tidak boleh sekadar memahami aturan di atas kertas. Lebih dari itu, harus mampu menghadirkan program nyata yang berdampak langsung bagi warga.
“Calon pimpinan itu selain menguasai perundang-undangan, setidaknya harus punya program yang jelas. Bisa memaparkan evaluasi, temuan, dan progres yang benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Ia melihat, peningkatan kualitas air hingga layak minum akan membawa manfaat ganda. Warga menjadi lebih efisien, tak lagi bergantung pada air galonan, sementara Perumdam juga berpotensi meningkatkan pendapatan seiring bertambahnya pemakaian air.
“Kalau air Perumdam bisa langsung dikonsumsi atau dimasak, masyarakat lebih efisien dan Perumdam juga berpotensi menambah PAD,” jelasnya.
Di tengah cita-cita Surabaya sebagai kota dunia, Buleks juga menyoroti pentingnya transformasi digital di tubuh Perumdam. Menurutnya, kemajuan sebuah kota harus tampak jelas arahnya, termasuk dalam pelayanan publik yang semakin modern dan efisien.
“Kalau bicara Surabaya sebagai kota dunia, majunya harus jelas ke mana. Sistem digital perlu diterapkan karena masih banyak proses manual yang kurang efisien,” tegasnya.
Namun digitalisasi, kata Buleks, tak boleh menghilangkan sentuhan kemanusiaan. Teknologi harus berjalan beriringan dengan pelayanan yang ramah, transparan, dan kinerja internal yang semakin solid.
Sebagai salah satu BUMD dengan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar, Perumdam Surya Sembada dinilai sebagai aset berharga yang harus dijaga betul kualitas kepemimpinannya.
“Perumdam ini aset luar biasa. PAD-nya termasuk tertinggi di antara BUMD lain, jadi harus dijaga dengan pimpinan yang tepat,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap proses seleksi direktur benar-benar berjalan profesional, bebas dari kepentingan dan titipan.
“Yang dibutuhkan itu profesional, tidak ada titipan. Jangan memilih kucing dalam karung. Pilih yang benar-benar menguasai Perumdam dan punya rekam jejak kerja yang baik,” tegasnya.
Di ujung harapannya, Buleks kembali pada hal paling mendasar: air sebagai sumber kehidupan. Ia membayangkan suatu hari nanti, warga Surabaya tak lagi ragu meneguk air dari keran rumah mereka sendiri.
“Air ini sumber kehidupan. Masyarakat sangat menunggu terobosan, terutama agar air Perumdam bisa langsung dikonsumsi tanpa harus membeli air galonan lagi,” pungkasnya.
Bagi Buleks, inovasi air minum layak konsumsi bukan sekadar program teknis, melainkan bagian dari wajah Surabaya ke depan, sebuah kota dunia yang maju, efisien, dan tetap humanis dalam melayani warganya.











