KaMedia – Pemerintah Kota Surabaya terus mempercepat langkah penanggulangan tuberkulosis (TBC) dengan menggencarkan kegiatan tracing dan screening di berbagai wilayah. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mendukung target nasional eliminasi TBC pada 2030 sekaligus menekan penyebaran penyakit yang masih menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, mengatakan saat ini terdapat lima area prioritas yang setiap pekan menjadi lokasi pelaksanaan tracing dan screening. Tracing dilakukan terhadap warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, sedangkan screening menyasar masyarakat umum, termasuk mereka yang tidak memiliki gejala maupun riwayat kontak dengan penderita.
“Setiap minggu kami melakukan tracing dan dan screening secara rutin di lima area. Tujuannya agar kasus bisa ditemukan lebih cepat dan segera ditangani,” ujarnya.
Hasilnya menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data Dinkes Surabaya periode Januari hingga Mei 2026, sebanyak 44.088 orang telah menjalani pemeriksaan dari target 61.624 suspek TBC atau mencapai 71,54 persen. Sementara itu, program skrining telah menjangkau 644.201 penduduk, setara 45,78 persen dari target yang ditetapkan.
Dari estimasi 11.412 kasus TBC yang diperkirakan terjadi sepanjang 2026, sebanyak 4.191 kasus berhasil ditemukan. Jumlah tersebut terdiri atas 4.078 kasus TBC sensitif obat (SO) dan 113 kasus TBC resistan obat (RO).
Saat ini, sebanyak 4.166 pasien tengah menjalani pengobatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Surabaya. Tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat pun mencapai 89,36 persen, sementara angka kematian pasien selama masa terapi tercatat hanya 1,80 persen.
Tak hanya fokus pada pengobatan, Dinkes Surabaya juga memperkuat langkah pencegahan. Hingga Mei 2026, sebanyak 2.461 investigasi kontak telah dilakukan dan 2.729 warga menerima terapi pencegahan untuk memutus rantai penularan di lingkungan keluarga.
Menariknya, upaya deteksi dini kini didukung teknologi pemeriksaan terbaru yang memungkinkan identifikasi TBC melalui sampel air liur atau saliva. Inovasi ini dinilai dapat mengatasi kendala pemeriksaan dahak yang Pengembangan metode tersebut melibatkan kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dokter spesialis paru, residen paru, serta mendapat dukungan tim ahli dari China dan Korea.
Menurut dr. Billy, begitu pasien terdiagnosis TBC, pengobatan langsung diberikan tanpa menunggu lama. Seluruh puskesmas di Surabaya telah memiliki paket terapi yang siap digunakan. Untuk memastikan pasien patuh menjalani pengobatan yang relatif panjang, Dinkes juga melibatkan Kader Surabaya Hebat (KSH), petugas puskesmas, dan tenaga kesehatan untuk melakukan pendampingan secara intensif.
“Kami terus memotivasi pasien agar tidak berhenti di tengah jalan. Kepatuhan minum obat menjadi kunci utama keberhasilan pengobatan TBC,” tegasnya.selama ini sering menjadi hambatan dalam proses diagnosis
Melalui berbagai langkah tersebut, Pemkot Surabaya optimistis dapat berkontribusi dalam mewujudkan target eliminasi TBC nasional pada 2030 sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021. Target itu menitikberatkan pada penurunan angka kejadian TBC menjadi 65 kasus per 100.000 penduduk dan angka kematian menjadi 6 kasus per 100.000 penduduk.
Dengan deteksi yang semakin masif, dukungan teknologi modern, serta pengobatan yang lebih cepat dan terpantau, Surabaya berupaya berada di garis depan dalam perang melawan TBC.











