KaMedia – Gubernur Khofifah Indar Parawansa terus mengakselerasi transformasi ekonomi Jawa Timur. Dalam lawatan ke Kuala Lumpur, ia menjalin komunikasi strategis dengan Maybank Islamic Berhad untuk memperkuat sektor keuangan syariah, memperluas ekosistem halal, hingga meningkatkan layanan remitansi bagi pekerja migran Indonesia.
Pertemuan dengan CEO Maybank Islamic, Mohamad Yasin bin Abdullah, menjadi bagian penting dari misi dagang dan investasi Jatim–Malaysia. Fokusnya tak sekadar bisnis, tetapi membangun fondasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami ingin kerja sama ini tidak hanya komersial, tetapi juga memperkuat layanan keuangan berbasis nilai dan inklusif,” tegas Khofifah.
Salah satu agenda utama adalah memperkuat posisi Bank Jatim sebagai motor penggerak keuangan daerah. Khofifah menekankan pentingnya pengembangan unit usaha syariah yang ditopang sumber daya manusia profesional di bidang Islamic finance.
Menurutnya, penguatan SDM menjadi kunci agar layanan syariah tidak sekadar “label”, tetapi benar-benar berkualitas dan berintegritas.
Tak hanya itu, sinergi ini juga diarahkan untuk memperbesar peran Bank Jatim dalam skema Kelompok Usaha Bank (KUB) bersama bank pembangunan daerah lain. Model ini dinilai mampu memperluas pasar, meningkatkan skala ekonomi, sekaligus memperkuat daya saing perbankan daerah di tingkat nasional hingga global.
Di sisi lain, transformasi digital juga menjadi perhatian. Pengembangan layanan J-Connect generasi terbaru diharapkan mampu memperluas inklusi keuangan, termasuk menjangkau diaspora Jawa Timur di Malaysia.
Langkah ini semakin relevan mengingat besarnya potensi remitansi pekerja migran Indonesia. Kolaborasi dengan Maybank Islamic diharapkan mampu menghadirkan layanan remitansi yang lebih cepat, aman, dan efisien.
Sementara itu, pihak Maybank Group melihat Jawa Timur sebagai mitra strategis. Dengan posisi sebagai salah satu dari lima besar institusi keuangan syariah dunia, Maybank menilai potensi kolaborasi sangat terbuka lebar, terutama dalam pengembangan industri halal.
“Ekosistem halal tidak hanya soal produk, tetapi juga sistem keuangan yang mendukung seluruh rantai nilai industri,” ujar Mohamad Yasin.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki keunggulan dari sisi demografi dan posisi geografis yang strategis untuk menjadi hub pengembangan ekonomi syariah di kawasan.
Sinergi ini pun dipandang sebagai langkah konkret untuk mengintegrasikan sektor keuangan syariah dengan industri halal, sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat.
Jika terealisasi optimal, kolaborasi ini tak hanya mengangkat kapasitas Bank Jatim, tetapi juga mendorong Jawa Timur naik kelas sebagai pusat ekonomi syariah yang berdaya saing global.











