JatimPemerintahanPolitik

Disorot di Museum Mpu Tantular, DPRD Sidoarjo Desak Pelestarian Jaranan Tak Sekadar Seremonial

×

Disorot di Museum Mpu Tantular, DPRD Sidoarjo Desak Pelestarian Jaranan Tak Sekadar Seremonial

Sebarkan artikel ini
Wakil Ketua III DPRD Sidoarjo, Warih Andono (baju hitam). Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Disporapar harus lebih serius dalam mengelola dan melestarikan kesenian tradisional / Foto : Fifin Jun.

KaMedia – Gebyar Seni dan Budaya Jaranan yang digelar di Museum Mpu Tantular menjadi magnet perhatian publik. Namun di balik kemeriahannya, muncul sorotan tajam terkait minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap keberlangsungan kesenian tradisional tersebut.

Budaya Jaranan merupakan seni pertunjukan khas Jawa yang menampilkan tarian dengan properti kuda tiruan atau jaran kepang, biasanya terbuat dari anyaman bambu. Pertunjukan ini diiringi gamelan seperti kendang, gong, kenong, dan terompet, dengan gerakan dinamis para penari, bahkan kerap disertai atraksi trance yang menjadi ciri khasnya.

Di Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, kesenian ini masih dijaga oleh kelompok-kelompok seni tradisional. Namun, upaya pelestariannya dinilai belum maksimal akibat kurangnya dukungan konkret dari pemerintah daerah.

Sorotan tersebut disampaikan Wakil Ketua III DPRD Sidoarjo, Warih Andono. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Disporapar harus lebih serius dalam mengelola dan melestarikan kesenian tradisional.

“Jangan sampai Budaya Jaranan ini hanya tampil sesekali tanpa arah yang jelas. Harus ada program konkret dan berkelanjutan,” tegas Warih.

Menurutnya, Jaranan tidak boleh sekadar dijadikan agenda seremonial, melainkan harus masuk dalam program kerja strategis yang mampu memberikan ruang tampil dan pembinaan bagi para pelaku seni.

Ia juga menilai Jaranan memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata daerah jika dikelola secara serius. Tanpa keberpihakan pemerintah, kesenian tradisional dikhawatirkan semakin terpinggirkan.

“Kalau tidak ada keberpihakan, lama-lama bisa hilang. Padahal ini identitas budaya kita,” ujarnya.

Pagelaran tersebut berlangsung meriah dengan penampilan kelompok Jaranan Jawi “Jefri Wijoyo” dari Desa Candi. Ratusan warga memadati lokasi dan mengikuti pertunjukan hingga selesai, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap kesenian tradisional.

Ketua panitia, Dekki Dento H, mengapresiasi dukungan DPRD Sidoarjo terhadap para seniman. Ia berharap kegiatan serupa dapat dijadikan agenda rutin pemerintah daerah.

“Kalau bisa digelar rutin, misalnya sebulan sekali. Selain melestarikan budaya, ini juga bisa jadi daya tarik wisata,” ujarnya.

Antusiasme juga datang dari warga. Siti (45) mengaku senang bisa mengenalkan budaya lokal kepada anak-anaknya melalui pertunjukan tersebut. Hal serupa disampaikan Agus (32), yang menilai Jaranan sebagai hiburan unik yang menggabungkan seni dan tradisi.

Dengan tingginya minat masyarakat, dorongan agar pemerintah lebih serius dalam pelestarian Budaya Jaranan semakin menguat—agar warisan budaya ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah arus modernisasi.