KaMedia – Persoalan sampah di Indonesia kini tak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi telah menjadi agenda strategis lintas sektor. Kesadaran itu tercermin dalam gelaran konferensi internasional Waste to Wealth 2026 yang digelar di Sidoarjo, mempertemukan akademisi, peneliti, hingga pemangku kebijakan dari berbagai negara.
Forum yang diinisiasi World University Association for Community Development bersama Universitas Airlangga ini menegaskan pentingnya sinergi global dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Sidoarjo yang dikenal sebagai Kota Delta, dipilih sebagai pusat kolaborasi berbasis lingkungan.
Asisten II Setda Sidoarjo Bidang Pembangunan dan Perekonomian, Bahrul Amig, menyatakan komitmen pemerintah daerah dalam menangani persoalan sampah secara sistematis. Saat ini, Sidoarjo telah mengoperasikan 209 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) serta fasilitas sanitary landfill sebagai bagian dari infrastruktur pengelolaan.
“Sinergi dengan akademisi menjadi kunci dalam merumuskan solusi strategis jangka panjang,” ujarnya, Minggu (26/4).
Konferensi ini mengusung konsep Waste to Wealth, yakni pendekatan yang mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi melalui inovasi teknologi. Tak hanya berorientasi pada keuntungan, konsep ini juga menitikberatkan prinsip keberlanjutan berbasis keadilan (equity), sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Sekretaris Eksekutif WUACD, Ni Nyoman Tri Puspaningsih, menekankan pentingnya kolaborasi multi-heliks dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak, mulai dari universitas, pemerintah, hingga asosiasi global seperti World Association for Sustainable Development akan memperluas dampak program hingga ke level internasional.
Pengelolaan sampah dalam forum ini juga mengacu pada konsep Waste Management Ladder, yang mencakup aspek teknis, regulasi, kelembagaan, pembiayaan, hingga partisipasi masyarakat.
“Keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan implementasi di lapangan,” tegasnya.
Komitmen WUACD sendiri telah mendapat pengakuan global melalui penghargaan dari WASD pada 2024 di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa. Penghargaan tersebut memperkuat kolaborasi lintas negara, melibatkan berbagai institusi seperti Universiti Kebangsaan Malaysia, Griffith University Australia, hingga mitra dari Afrika dan Pakistan.
Melalui kolaborasi global ini, diharapkan konsep Waste to Wealth mampu menjadi solusi nyata dalam menjawab tantangan darurat sampah di Indonesia, mengubah beban lingkungan menjadi peluang ekonomi berkelanjutan.











