KaMedia – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan duka cita mendalam atas gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemprov Jatim memastikan dukungan kemanusiaan segera digerakkan untuk membantu masyarakat terdampak.
Dukungan tersebut meliputi pengerahan personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, tim kesehatan, serta bantuan logistik untuk mendukung pencarian dan pertolongan, pelayanan medis, hingga pemenuhan kebutuhan dasar warga.
“Atas nama pribadi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh masyarakat Jawa Timur, saya menyampaikan duka cita dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas bencana gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur. Hati dan doa kami bersama saudara-saudara kita di NTT,” ujar Khofifah di Surabaya, Senin (17/8).
Khofifah mendoakan para korban meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, sementara keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan korban luka segera mendapat kesembuhan.
Sebagai langkah awal, BPBD Jatim telah memberangkatkan tujuh personel advance menuju wilayah terdampak pada Minggu (16/8).
Enam personel merupakan Tim Reaksi Cepat (TRC)/Urban Search and Rescue (USAR) yang akan bergabung dengan Basarnas dan unsur SAR lainnya dalam operasi pencarian dan pertolongan. Satu personel Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) bertugas mendukung pengumpulan dan sinkronisasi data kebencanaan di lapangan.
” Enam personel kita memiliki spesifikasi pencarian dan pertolongan. Mereka akan bergabung dan berkoordinasi dengan Basarnas serta tim SAR yang sudah berada di lapangan. Satu personel Pusdalops akan membantu memastikan data dan informasi kebencanaan dapat dihimpun secara cepat dan akurat,” kata Khofifah.
Tim advance juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan BPBD setempat sekaligus melakukan asesmen untuk memetakan kondisi serta kebutuhan masyarakat.
Mereka dibekali perangkat komunikasi dan dukungan jaringan untuk mengantisipasi gangguan komunikasi di wilayah terdampak. Informasi dari lapangan diharapkan dapat diteruskan secara cepat kepada posko dan unsur terkait.
Dukungan Jatim juga diperkuat dengan pengiriman tim kesehatan untuk membantu pelayanan medis darurat bagi korban dan masyarakat di pengungsian.
Tim dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya terdiri atas empat personel tenaga medis, yakni dokter spesialis orthopedi, dokter spesialis anestesi, dan perawat, serta didukung tim teknis.
Selain tenaga medis, tim membawa obat-obatan dan peralatan medis, termasuk perlengkapan anestesi dan pembedahan untuk menangani korban yang membutuhkan tindakan lebih lanjut.
“Penanganan pascabencana membutuhkan kerja bersama. Selain pencarian dan pertolongan, layanan kesehatan bagi korban dan masyarakat di pengungsian juga menjadi hal yang sangat penting,” ujar Khofifah.
Pemprov Jatim juga mengirim bantuan logistik hasil konsolidasi BPBD bersama berbagai perangkat daerah. Pada tahap pertama, bantuan mencapai 8,4 ton senilai Rp985,8 juta.
Bantuan tahap awal diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pada Senin (17/8) pukul 06.00 WIB menggunakan truk berkapasitas 8,4 ton. Selanjutnya bantuan dikirim melalui jalur laut menggunakan KM Dharma Rucitra 8 dari Dermaga Jamrud menuju Pelabuhan Soekarno, Ende, NTT.
Setibanya di Ende, bantuan akan diserahterimakan kepada Posko Utama BPBD Provinsi NTT untuk kemudian didistribusikan ke wilayah terdampak berdasarkan hasil asesmen.
” Nantinya total bantuan dari Jawa Timur yang akan diberangkatkan diperkirakan sebanyak 100 ton. Yang diberangkatkan tanggal 17 Agustus 2026 sebanyak 8,4 ton, sisanya akan diberangkatkan tanggal 20 Agustus 2026 menuju Labuan Bajo,” jelas Khofifah.
Khofifah menegaskan, bantuan tidak sekadar mengutamakan jumlah, tetapi harus cepat tiba dan sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Yang terpenting bukan hanya seberapa banyak bantuan yang kita kirimkan, tetapi bagaimana bantuan tersebut bisa segera sampai dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak,” tegas Khofifah.
Pemprov Jatim juga membangun koordinasi dengan provinsi-provinsi yang tergabung dalam Mitra Praja Utama (MPU) untuk memperluas dukungan dan mempercepat mobilisasi sumber daya.
Menurut Khofifah, bencana tidak mengenal batas administratif sehingga solidaritas antardaerah harus diwujudkan dalam aksi nyata.
” Bencana tidak mengenal batas wilayah. Hari ini saudara kita di NTT sedang membutuhkan dukungan. Maka seluruh kemampuan yang bisa kita sinergikan harus kita maksimalkan untuk membantu proses pencarian, pertolongan, pelayanan kesehatan maupun pemenuhan kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Khofifah turut mengapresiasi BNPB, Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat yang terlibat dalam penanganan bencana.
Ia memastikan Pemprov Jatim terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan Pemprov NTT. Dukungan berikutnya akan disesuaikan dengan perkembangan situasi serta hasil asesmen tim di lapangan.
“Sekali lagi, duka NTT adalah duka kita bersama. Dari Jawa Timur kami mengirimkan doa, kepedulian dan dukungan terbaik. Semoga saudara-saudara kita di NTT diberikan kekuatan dan ketabahan, dan semoga NTT dapat segera bangkit dan pulih dari bencana ini,” pungkas Khofifah.











