KaMedia – Potensi banjir rob di wilayah Surabaya kembali menjadi perhatian seiring adanya prediksi air laut pasang pada akhir September dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjung Perak, Surabaya. Pakar mitigasi bencana banjir Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Umboro Lasminto ST MSc menjelaskan bahwa ketinggian air pasang menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
Menurut Umboro, masyarakat dapat mencermati prediksi air pasang yang dikeluarkan BMKG atau sumber resmi lainnya. “Dari hasil pengamatan yang pernah terjadi sebelumnya, apabila puncak pasang di atas 2,4 meter maka perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan banjir rob,” terangnya.
Umboro mengungkapkan, apabila ketinggian air pasang berada di bawah angka tersebut, maka kemungkinan terjadinya banjir rob relatif lebih rendah. Meski demikian, dosen Departemen Teknik Sipil ITS tersebut mengingatkan bahwa kondisi pasang di lapangan tidak selalu sesuai dengan prediksi. “Masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan ketika terdapat prediksi pasang tinggi di wilayah pesisir Surabaya,” pesannya.
Sementara itu, dosen dan peneliti mitigasi bencana banjir dari Departemen Teknik Infrastruktur Sipil ITS Muhammad Hafiizh Imaaduddiin ST MT menambahkan bahwa pasang air laut berkaitan dengan siklus bulan. Fase bulan purnama juga identik dengan terjadinya periode pasang yang lebih besar. “Menurut saya, kenapa September ini terjadi potensi pasang tertinggi hanya karena waktunya kebetulan bersamaan, yakni bulan purnama, pasang tertinggi, kemudian potensi rob,” terangnya.
Hafiizh juga menyampaikan bahwa karakteristik Surabaya sebagai wilayah hilir pesisir membuat potensi banjir rob menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Perkembangan kawasan perkotaan juga membuat area resapan air semakin terbatas. “Sebagai daerah hilir pesisir, Surabaya tidak dapat menghindari potensi banjir rob sehingga perlu diantisipasi melalui pengelolaan drainase,” jelasnya.
Menurut Hafiizh, berbagai kawasan terbangun seperti perumahan, perkantoran, hingga kawasan stadion Gelora Bung Tomo (GBT) turut mengurangi area resapan air di Surabaya. Kendati demikian, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah memiliki Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) sebagai salah satu upaya penanganan persoalan drainase perkotaan.
Masyarakat dapat melakukan langkah sederhana dengan mengamankan barang dari lokasi yang berpotensi tergenang dan menyiapkan alternatif rute perjalanan. Kesiapsiagaan juga penting dilakukan meskipun banjir rob pada akhirnya tidak terjadi. “Persiapan sejak awal dapat membantu meminimalkan risiko dan dampak apabila pasang berkembang menjadi banjir rob,” pungkasnya.
Upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan pengelolaan drainase tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke-11 tentang pembangunan kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, serta berkelanjutan.











