KaMedia – Bahkan hingga hari ini, Hendrik Bayu Admiko masih kerap menggelengkan kepala jika mengingat laju pertumbuhan usaha yang ia rintis bersama tiga rekannya.
“Jujur saja, saya salah satu orang yang paling nggak percaya usaha ini bisa sejauh ini,” katanya sambil tersenyum.
Nama usaha itu Roti GOKKI, produk roti yang kini menjelma menjadi bisnis dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan, berangkat dari modal awal yang relatif kecil dan keyakinan yang sempat goyah.
Hendrik, pria penghobi sepak bola ini, bukan pendatang baru di dunia usaha makanan. Jauh sebelum GOKKI dikenal, ia sempat membangun bisnis makanan Korea bernama GYIOKI. Semuanya telah disiapkan. Produksi siap jalan, konsep matang, investor sudah di tangan. Namun hidup punya skenario sendiri.
“Investor saya meninggal dunia. Di situ semuanya berhenti. Logonya saya simpan, usahanya saya kubur dulu,” kenangnya pelan.
Waktu berjalan. Tahun 2024 menjadi titik balik. Hendrik bertemu seorang teman lama produsen roti yang usahanya bangkrut. Alih-alih menutup mata, Hendrik justru mendengar satu kalimat yang mengubah arah hidupnya.
“Dia bilang, ‘Tolong bantu saya bangkit.’ Kalimat itu nempel sampai sekarang,” ujarnya.
Dari situ, Hendrik mulai mengumpulkan kepingan yang tersisa. Ia menggandeng teman yang paham produksi roti, satu orang khusus menangani branding dan pengembangan, serta satu investor baru. Empat orang, empat peran, satu tujuan, membangun ulang dari nol.
Modal awal mereka hanya Rp55 juta, digunakan untuk membeli peralatan produksi. Tidak besar, tapi cukup untuk memulai. Menurut Hendrik, tantangan terbesar bukan soal produk.
“Roti itu sebenarnya sudah diterima masyarakat. Tinggal kita mau main di pasar yang mana,” katanya.
Pilihan pun dijatuhkan pada strategi sederhana namun konsisten, roti enak, harga terjangkau, dan kemasan menarik. Harga ditetapkan Rp3.500 per buah, dengan kualitas rasa yang dijaga. Pemasaran dilakukan lewat reseller. Strategi ini terbukti efektif.
“Kemasan kita bantu jualan. Orang lihat saja sudah tertarik. Tinggal dicoba, habis itu balik lagi,” ujar Hendrik.
Produksi awal langsung menembus 1.000 roti per hari, atau sekitar 24 ribu roti per bulan. Angka itu terus naik, seiring bertambahnya jaringan reseller yang saling terhubung.
Kini, produksi Roti GOKKI telah mencapai lebih dari 300 ribu roti per bulan.
Yang membuat Hendrik paling bangga bukan sekadar angka penjualan, melainkan cara mereka bertumbuh.
“Kami sepakat dari awal muter profit saja. Jangan besar karena utang bank,” tegasnya.
Strategi itu membuahkan hasil. Dari sistem reseller, Roti GOKKI kini berkembang menjadi 9 toko, dengan 7 toko aktif tersebar di Jawa Timur. Usaha ini juga menyerap 35 pekerja, menggandeng 60 reseller, serta 7 distributor.
“Dari Rp55 juta, sekarang bisa sampai ratusan juta omzet. Buat kami ini bukan cuma soal bisnis, tapi bukti kalau sabar itu ada hasilnya,” katanya.
Saat ini, Roti GOKKI hadir di Malang, Kediri, Tulungagung, Probolinggo, Pasuruan, Surabaya, dan Sidoarjo. Namun Hendrik belum ingin berhenti. Target berikutnya sudah dipasang.
“Tahun 2026 kami ingin tembus luar Jawa, khususnya Lampung. Respons pasar di sana bagus, dan mereka mulai percaya produk dari Sidoarjo,” ujarnya optimistis.
Selain Lampung, wilayah Madura juga masuk dalam peta ekspansi. Bagi Hendrik, pertumbuhan bukan soal cepat atau lambat, melainkan soal kesiapan.
“Yang penting usaha ini tetap sehat. Pelan-pelan, tapi jalan,” tutupnya.
Dari logo yang sempat tersimpan karena duka, Roti GOKKI kini menjadi simbol kebangkitan, tentang kepercayaan yang tumbuh bukan dari janji, tetapi dari kerja nyata.











