KaMedia – Kejaksaan Tinggi Jawa Timur membongkar praktik dugaan pungutan liar yang disebut-sebut telah lama “menggurita” di tubuh Dinas ESDM Jawa Timur. Penggeledahan terbaru di Surabaya mengungkap fakta mencengangkan: aliran uang haram yang diduga dibagi rutin, barang bukti ditumpuk, hingga kendaraan mewah yang kini ikut disita.
Selama enam jam penggeledahan pada Senin (20/4/2026), penyidik menyisir ruang-ruang strategis, termasuk kantor Kepala Dinas dan Kabid Pertambangan. Hasilnya tak main-main, dokumen perizinan yang diduga “ditahan”, catatan pembagian uang, hingga disposisi pimpinan yang dicurigai sebagai perintah tak sah berhasil diamankan. Semua ini mengarah pada dugaan praktik sistematis, bukan sekadar pelanggaran sporadis.
Yang paling menghebohkan, penyidik menemukan indikasi kuat adanya “jatah bulanan” bagi sekitar 19 orang staf di Bidang Pertambangan. Uang panas itu disebut mengalir rutin setiap akhir bulan selama kurang lebih dua tahun, dengan nominal bervariasi antara Rp750 ribu hingga Rp2,5 juta, disesuaikan dengan jabatan dan peran masing-masing.
Seolah membenarkan skema tersebut, para staf kini mulai mengembalikan uang yang diduga hasil pungli. Hingga saat ini, total Rp707 juta telah disita. Namun angka itu diyakini baru sebagian kecil dari keseluruhan praktik yang tengah ditelusuri.
Tak berhenti di situ, penyidik juga menyita satu unit Toyota Fortuner VRZ 4×2 AT milik tersangka berinisial OS. Mobil mewah tersebut diduga kuat dibeli dari hasil praktik ilegal perizinan, simbol nyata bagaimana pungli bisa bertransformasi menjadi gaya hidup.
Kasus ini berpotensi melebar. Selain jerat korupsi, penyidik membuka peluang penerapan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), mengingat keterlibatan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan sejak awal dalam menelusuri aliran dana.
Di tengah panasnya penyidikan, Kejati Jatim juga membuka hotline pengaduan bagi masyarakat yang merasa menjadi korban pungli. Langkah ini menjadi sinyal tegas: praktik kotor di sektor perizinan tak lagi bisa disembunyikan.
Skandal ini bukan sekadar soal angka ratusan juta atau satu mobil mewah. Ini tentang dugaan sistem yang bermain di balik layanan publik dan kini, satu per satu mulai terkuak.











