KaMedia – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) mempertegas posisinya sebagai simpul logistik modern dan berdaya saing dengan mengimplementasikan empat standar ISO internasional secara terintegrasi. Langkah ini menjadi strategi perusahaan dalam menjaga efisiensi operasional, integritas tata kelola, sekaligus meningkatkan kepercayaan pelaku usaha di tengah ketatnya persaingan sektor kepelabuhanan nasional.
TTL saat ini tengah menjalani Audit Eksternal Sistem Manajemen Terintegrasi ISO Series Tahun 2026, yang berlangsung bertahap mulai 12 hingga 30 Januari 2026. Audit dilakukan oleh auditor independen dan mencakup seluruh lini operasional, mulai dari Terminal Teluk Lamong, Terminal Petikemas (TPK) Teluk Lamong, TPK Berlian, hingga TPK Nilam.
Empat standar yang diaudit meliputi ISO 9001:2015 (Manajemen Mutu), ISO 45001:2018 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), ISO 50001:2018 (Manajemen Energi), serta ISO 37001:2016 (Sistem Manajemen Anti Penyuapan). Kombinasi keempat standar ini mencerminkan pendekatan menyeluruh terhadap kualitas layanan, efisiensi biaya, keselamatan kerja, hingga tata kelola berintegritas.
Direktur Operasi PT Terminal Teluk Lamong, M. Syukur, menegaskan bahwa audit ISO terintegrasi bukan sekadar pemenuhan sertifikasi, melainkan instrumen strategis dalam menjaga keandalan bisnis.
“Penerapan ISO secara terintegrasi membantu kami menjaga konsistensi kualitas layanan, meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja, mengoptimalkan penggunaan energi, serta memperkuat sistem pencegahan penyuapan. Dampaknya langsung terhadap efisiensi operasional dan kepercayaan pemangku kepentingan,” ujar Syukur.
Dalam konteks ekonomi, efisiensi menjadi kata kunci. Penerapan ISO 50001, misalnya, memungkinkan TTL mengendalikan konsumsi energi secara lebih terukur, yang berimplikasi langsung pada pengendalian biaya operasional. Sementara ISO 37001 memperkuat transparansi dan kepatuhan, faktor krusial bagi dunia usaha dan investor yang semakin menuntut kepastian hukum dan tata kelola bersih.
Syukur mengakui, audit terintegrasi memiliki tantangan tersendiri, terutama pada kesiapan dokumentasi dan konsistensi implementasi di lapangan. Namun, pendekatan ini justru dinilai lebih efektif.
“Dengan audit terintegrasi, waktu pelaksanaan menjadi lebih singkat dan hasilnya lebih komprehensif. Sistem manajemen tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam mendukung kinerja bisnis,” jelasnya.
Rangkaian audit diawali dengan opening meeting, dilanjutkan audit lapangan sesuai audit plan, dan ditutup dengan closing meeting. Seluruh unit kerja TTL terlibat aktif dengan menyediakan data dan bukti implementasi sistem manajemen sepanjang tahun 2025.
Langkah TTL ini sejalan dengan kebutuhan industri logistik nasional yang menuntut pelabuhan tidak hanya cepat dan efisien, tetapi juga aman, berkelanjutan, dan berintegritas. Dengan sistem manajemen yang teruji secara internasional, Terminal Teluk Lamong menargetkan peningkatan keandalan layanan sekaligus memperkuat posisinya sebagai gerbang logistik utama di kawasan timur Indonesia.
Melalui audit ISO terintegrasi ini, TTL menegaskan komitmennya terhadap tata kelola perusahaan yang kuat dan perbaikan berkelanjutan, sebuah fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah dinamika ekonomi dan perdagangan global.











