KaMedia – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak agresif memastikan tak ada lagi pemuda yang gagal kuliah hanya karena keterbatasan ekonomi. Lewat program “jemput bola”, camat dan lurah diterjunkan langsung menyisir kampung-kampung untuk mendeteksi calon mahasiswa dari keluarga miskin (gakin) dan pramiskin.
Langkah ini menjadi bagian dari penguatan program bantuan biaya perkuliahan yang kini menjadi prioritas Pemkot Surabaya, sejalan dengan visi “1 KK 1 Sarjana” yang digagas Wali Kota Eri Cahyadi.
Pelaksana Tugas Kepala Disbudporapar Surabaya, Herry Purwadi, menjelaskan bahwa program ini merupakan tindak lanjut Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 4 Tahun 2026. Skema baru ini menggantikan program sebelumnya, Beasiswa Pemuda Tangguh, dengan jangkauan yang lebih luas.
“Program ini menindaklanjuti arahan Wali Kota terkait 1 KK 1 Sarjana, melalui bantuan biaya perkuliahan,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Tak hanya memperluas sasaran, Pemkot juga memperlebar jejaring kerja sama dengan perguruan tinggi. Jika sebelumnya hanya menggandeng perguruan tinggi negeri, kini program tersebut merangkul perguruan tinggi swasta. Total ada 65 kampus yang terlibat, terdiri dari 15 PTN dan 50 PTS.
Bantuan yang diberikan pun cukup signifikan: uang kuliah tunggal (UKT) sebesar Rp2,5 juta serta uang saku Rp300 ribu per bulan selama 10 bulan setiap tahun hingga mahasiswa lulus.
Tahun 2026, kuota penerima bantuan mencapai sekitar 23.860 orang. Hingga saat ini, sebanyak 11.600 mahasiswa telah merasakan manfaat program tersebut.
Namun, Pemkot memastikan program ini berjalan tepat sasaran. Proses seleksi dilakukan ketat, tidak hanya berbasis data, tetapi juga melalui verifikasi lapangan. Tim khusus bahkan turun langsung melakukan survei untuk memastikan kondisi calon penerima.
“Kalau masih meragukan, kami cek langsung ke lapangan dan semuanya terdokumentasi,” tegas Herry.
Untuk memperluas jangkauan, kecamatan dan kelurahan dilibatkan aktif dalam pendataan dan sosialisasi. Salah satu yang bergerak cepat adalah Kecamatan Sawahan.
Camat Sawahan, Kanti Budiarti, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan penyisiran sejak dua bulan lalu dengan metode door to door, bahkan sejak bulan Ramadan.
Pendataan dilakukan bersama perangkat kelurahan, RT/RW, hingga Kader Surabaya Hebat (KSH), dengan fokus pada warga kategori desil 1 hingga 5.
Hasilnya, di wilayah Sawahan tercatat 2.041 pemuda masuk kategori tersebut. Dari jumlah itu, 204 di antaranya sudah berstatus mahasiswa dan kini didorong untuk segera mengakses bantuan biaya kuliah.
“Yang sudah jadi mahasiswa ini kita dorong untuk mendaftar agar bisa mendapatkan bantuan,” ujar Kanti.
Dengan strategi jemput bola ini, Pemkot Surabaya berharap tak ada lagi potensi anak muda yang tertinggal pendidikan tinggi. Lebih dari sekadar bantuan, program ini menjadi investasi jangka panjang untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.











