KaMedia – Pagi itu, air masih menggenang di Dusun Bandaran, Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Sisa hujan beberapa hari terakhir membuat permukiman berubah menjadi hamparan air. Aktivitas warga terhenti, sebagian memilih bertahan, sebagian lainnya mengungsi.
Di tengah situasi itu, sebuah perahu perlahan bergerak membelah genangan. Di atasnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, datang langsung menyapa warganya.
Ia tidak hanya melihat dari kejauhan. Satu per satu titik terdampak didatanginya. Ia mendengar cerita warga, merasakan langsung kondisi di lapangan, dan memastikan mereka dalam keadaan aman.
Di beberapa titik, Khofifah menyerahkan bantuan sembako. Bagi warga yang sudah berhari-hari menghadapi banjir, kehadiran itu terasa lebih dari sekadar bantuan, ada perhatian dan kepedulian yang nyata.
“Yang paling penting keselamatan,” pesannya singkat, namun tegas.
Banjir di wilayah ini bukan tanpa sebab. Hujan dengan intensitas tinggi membuat anak-anak sungai meluap. Ditambah kondisi wilayah yang berupa dataran rendah, air pun menggenang dan sulit surut.
Upaya penanganan terus dilakukan. Tim gabungan bergerak melakukan pendataan, menyalurkan logistik, hingga membantu evakuasi warga. Sejumlah pompa air juga disiapkan untuk mempercepat surutnya genangan, meski penggunaannya harus menunggu air sungai turun.
“Kalau air sungai masih tinggi, pemompaan belum efektif,” jelas Khofifah di sela peninjauan.
Di balik genangan yang terlihat, ada persoalan yang lebih panjang. Banjir ini datang hampir setiap tahun. Normalisasi sungai dan pengelolaan aliran air menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda.
Namun dampak tak hanya dirasakan di permukiman. Di hamparan sawah, banyak tanaman yang gagal panen. Lahan-lahan itu terendam, menyisakan kekhawatiran bagi para petani.
Pemerintah pun bergerak. Bantuan benih disiapkan, agar para petani bisa kembali menanam ketika air surut nanti.
Tak jauh dari lokasi banjir, dapur umum terus bekerja tanpa henti. Dari tempat itu, ribuan makanan dimasak setiap hari untuk memastikan kebutuhan warga tetap terpenuhi.
Di tengah situasi yang tidak mudah, ada momen kecil yang menghadirkan kehangatan. Saat Khofifah bertemu anak-anak, suasana berubah. Tawa mereka pecah, seolah sejenak melupakan genangan yang mengelilingi.
Beberapa dari mereka bahkan mengingatkan,
“Hati-hati ya, Bu…” Sederhana, tapi tulus.
Khofifah tersenyum. Ia lalu membagikan mainan, mencoba menjaga keceriaan anak-anak tetap hidup di tengah kondisi sulit.
“Anak-anak harus tetap bahagia,” katanya.
Di sudut lain, seorang warga bernama Sumiati mengisahkan malam panjang yang ia lalui. Air sempat naik hingga setinggi perut orang dewasa saat subuh. Ia dan keluarganya tidak bisa tidur.
“Terima kasih, Bu… sudah datang dan membantu kami,” ucapnya lirih.
Berdasarkan data, lebih dari seribu kepala keluarga terdampak banjir di Kabupaten Pasuruan. Angka yang besar, dengan cerita dan perjuangan masing-masing di baliknya.
Namun hari itu, di tengah genangan dan ketidakpastian, ada satu hal yang terasa jelas, warga tidak sendirian.
Ada tangan-tangan yang bergerak, ada perhatian yang hadir, dan ada harapan yang perlahan dijaga agar tetap menyala.











