HeadlineJatimPemerintahan

Gubernur Khofifah Ajak Kepala Daerah Se-Jatim Siaga Hadapi Gejolak Dunia, Dari Grahadi Dirumuskan Strategi Bersama

×

Gubernur Khofifah Ajak Kepala Daerah Se-Jatim Siaga Hadapi Gejolak Dunia, Dari Grahadi Dirumuskan Strategi Bersama

Sebarkan artikel ini

KaMedia – Suasana hangat masih terasa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, usai momen Idul Fitri. Namun di balik nuansa halal bihalal itu, tersimpan pembahasan serius tentang masa depan Jawa Timur di tengah gejolak dunia.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengumpulkan para bupati dan wali kota se-Jawa Timur dalam sebuah diskusi publik yang tak sekadar seremonial. Forum ini menjadi ruang bersama untuk membaca arah angin global dan menyiapkan langkah menghadapi dampaknya di daerah.

Mengangkat isu ketegangan geopolitik antara Amerika, Israel, dan Iran, diskusi ini langsung menyasar potensi dampak nyata: dari harga energi, pasokan pangan, hingga kelancaran distribusi logistik.

“Dinamika global ini bukan sesuatu yang jauh. Dampaknya bisa langsung kita rasakan, terutama di sektor energi, pangan, dan logistik,” ujar Khofifah.

Diskusi dipandu oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, dan menghadirkan sejumlah narasumber strategis. Di antaranya Sekretaris Kemenko Perekonomian RI Susiwijono Moegiarso yang bergabung secara daring, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Ibrahim, serta akademisi Universitas Airlangga, Gigih Prihantoro.

Di forum ini, satu benang merah menguat: Jawa Timur tidak boleh hanya bertahan, tetapi harus adaptif dan siap menangkap peluang.

“Yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar bertahan, tapi menjadi daerah yang resilien dan mampu beradaptasi dengan cepat,” tegas Khofifah.

Bukan tanpa alasan Jawa Timur harus sigap. Provinsi ini memegang peran penting dalam perekonomian nasional, menyumbang lebih dari seperempat ekonomi Pulau Jawa dan sekitar 14 persen terhadap nasional.

Di sektor logistik, peran Jawa Timur bahkan menjadi tulang punggung distribusi ke kawasan Indonesia Timur. Sementara di sektor pangan, Jawa Timur masih menjadi lumbung nasional dengan produksi padi dan beras tertinggi di Indonesia.

“Ketahanan pangan adalah kunci. Jawa Timur harus menjadi penopang, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga nasional,” kata Khofifah.

Untuk itu, berbagai langkah terus diperkuat. Dari peningkatan produksi pertanian, distribusi melalui program Jatim Agro-Hub, hingga operasi pasar dan pasar murah di seluruh kabupaten/kota guna menjaga stabilitas harga.

Di sektor energi, kondisi Jawa Timur saat ini dipastikan aman, termasuk selama periode Lebaran. Namun Khofifah mengingatkan, volatilitas harga energi global tetap menjadi tantangan yang harus diantisipasi sejak dini.
Sebagai langkah jangka panjang, pengembangan energi baru terbarukan terus dipercepat. Hingga kini, kapasitasnya telah mencapai lebih dari 700 MW dari berbagai sumber, mulai dari tenaga surya hingga biomassa.

Di sisi lain, perlindungan masyarakat juga menjadi perhatian utama. Dukungan bagi UMKM diperkuat melalui relaksasi kredit, sementara program sosial seperti PKH Plus, bantuan disabilitas, hingga bantuan langsung tunai terus digulirkan untuk menjaga daya tahan masyarakat.

Khofifah juga mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing kepanikan.

“Kami mengajak masyarakat tidak melakukan panic buying. Stok aman, harga tetap terkendali,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Kemenko Perekonomian RI, Susiwijono Moegiarso, menilai struktur ekonomi Indonesia, terutama yang ditopang konsumsi domestik menjadi bantalan kuat menghadapi tekanan global.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan struktural yang masih perlu dibenahi, termasuk dalam menarik investasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil.

“Secara umum kita cukup resilien, tapi sektor unggulan bisa terdampak lebih cepat. Ini yang harus kita antisipasi bersama,” pungkasnya.