KaMedia – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) Group sukses mencetak performa impresif di lima bulan pertama tahun 2026. Sepanjang periode Januari–Mei, TTL Group berhasil membukukan arus petikemas (throughput) sebesar 1.205.540 TEUs, melonjak 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Capaian moncer ini kian mempertegas posisi Jawa Timur bukan sekadar pemain lokal, melainkan ‘Gerbang Baru Nusantara’ sekaligus hub logistik internasional yang semakin terintegrasi dengan jaringan global.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David Pandapotan Sirait, mengungkapkan bahwa rapor hijau ini adalah buah manis dari konsistensi perusahaan dalam melakukan transformasi total.
“Pertumbuhan kinerja hingga Mei 2026 menunjukkan bahwa strategi operasional yang kami jalankan berada pada jalur yang tepat. Melalui transformasi digital, optimalisasi layanan kapal, hingga penguatan budaya keselamatan kerja, kami berhasil mendongkrak produktivitas,” ujar David.
Lonjakan arus logistik ini ditopang oleh kinerja solid dari tiga terminal utama di bawah naungan TTL Group yang masing-masing menunjukkan tren positif:
Terminal Petikemas (TPK) Teluk Lamong menjadi bintang utama dengan mencatat throughput sebesar 448.966 TEUs, naik signifikan dari tahun lalu yang berada di angka 358.127 TEUs.
Menariknya, lonjakan ini dipicu oleh arus petikemas internasional yang melesat tajam hingga 91%. Keberhasilan melayani 15 kapal internasional adhoc menjadi bukti sahih bahwa raksasa pelayaran global makin percaya pada keandalan dan kecepatan layanan di terminal ini.
Performa mengkilap juga ditunjukkan oleh TPK Nilam yang sukses membukukan throughput 221.807 TEUs. Kunci sukses terminal ini terletak pada kolaborasi cerdas bersama KSOP Utama Tanjung Perak melalui program Express Anchorage Zone Service (EAZI).
Program optimalisasi Zona Labuh 2 Surabaya ini sukses memangkas waktu tunggu kapal untuk bersandar. Efek dominonya, waktu pelayanan menjadi jauh lebih cepat dan frekuensi kunjungan kapal otomatis meningkat.
Sementara itu, TPK Berlian tetap stabil menjadi tulang punggung konektivitas nasional dengan mencatat throughput sebesar 534.767 TEUs. Terminal ini mendominasi distribusi petikemas domestik, terutama dalam mengawal arus logistik menuju wilayah Indonesia bagian timur.
Di balik angka-angka pertumbuhan yang agresif, TTL Group tidak melupakan aspek keselamatan. Pada Maret 2026 lalu, perusahaan menggelar Safety Improvement Program untuk memastikan seluruh aktivitas operasional berjalan sesuai standar K3.
Lewat pengetatan aturan seperti Safety Induction, pemenuhan syarat keselamatan minimum, hingga program Terminal Sterilization, TTL memastikan seluruh aktivitas bongkar muat di lapangan berlangsung aman dan minim risiko. Bagi TTL Group, produktivitas tinggi wajib berjalan beriringan dengan keselamatan kerja yang berkelanjutan.
Memasuki paruh kedua tahun 2026, TTL Group tidak ingin mengendurkan momentum. Dengan modal kepercayaan pelanggan yang terus menebal dan sinergi ekosistem logistik yang kian solid, TTL Group optimistis mampu menjaga tren pertumbuhan ini.
Langkah strategis ini diharapkan tidak hanya menurunkan biaya logistik nasional, tetapi juga membawa Indonesia, khususnya Jawa Timur siap bersaing secara global sebagai hub perdagangan maritim yang modern dan terintegrasi.











