KaMedia – Dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno, Juni 2025, DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Bidang Pariwisata dan Kebudayaan
bekerja sama dengan Yayasan Taut Seni
memprakarsai pentas di Surabaya
IMAM AL-BUKHARI & SUKARNO.
Sebuah tablo teater-musik tentang perjalanan Presiden Sukarno ke Uzbekistan pada 1956. Bumi Purnati Indonesia memproduksi teater-musik bertajuk Imam
Al-Bukhari & Sukarno. Ini adalah pentas kolaborasi yang mencoba menelusuri dan memaknai kembali kunjungan kenegaraan Presiden Sukarno ke Uzbekistan pada 1956.
Kunjungan itu sendiri mengandung nilai sejarah yang penting karena mempertegas diplomasi politik Indonesia di tengah situasi Perang Dingin yang belum reda. Kunjungan Sukarno saat itu mempererat hubungan Indonesia dan Uzbekistan yang penduduknya beragama Islam dan di Samarkand, Uzbekistan, terdapat makam pemimpin perawi Hadis: Imam Bukhari. Indonesia dan Uzbekistan sebelumnya telah bertemu Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat, 18-24 April 1955.
Sebagaimana namanya pentas kolaborasi karya ini menampilkan bukan hanya aspek-aspek penting teater modern, tetapi juga musik klasik dan modern, lagu nasional, musik tradisi di Indonesia dan Uzbekistan, untaian zikir. Pentas Imam Al-Bukhari & Sukarno adalah sebuah historical eenactment.(menghidupkan kembali) dan teater arsip yang mengingatkan kita kembali kepada misi-misi kesenian Indonesia ke mancanegara pada masa pemerintahan Sukarno, terutama sepanjang 1950-1965.
Sebagai sebuah pementasan musik-teater pentas ini juga membuat peristiwa sejarah selalu aktual di atas panggung dan kontekstual untuk khalayak penonton hari ini. Dengan pentas ini khalayak penonton akan mendapatkan watak ganda teater, sebagai pengolahan seni peran yang
berusaha menggali asal muasal psikologi manusia sejak era Perang Dingin dan pengingatan kembali akan sejarah, arus sosial-politik, yang berlalu di sekitarnya.
Kunjungan kenegaraan Presiden Sukarno ke Uzbekistan dimulai dari undangan Presiden Uni Soviet Nikita Khrushcev pada 1956. Sebelum menyetujui undangan itu, Sukarno meminta syarat agar Khruschev menemukan kembali makam Imam Bukhari, pemimpin para perawi Hadis yang sangat dihormati di kalangan umat Islam.
Situasi politik yang memanas antara Blok Barat dan Blok Timur yang dikenal dengan Perang Dingin membuat Sukarno harus berhati-hati dalam melakukan kunjungan kenegaraan ini. Indonesia dalam hal ini harus menjalankan haluan politiknya yang bebas-aktif dan nonblok dan karenanya Sukarno meminta untuk menziarahi makam Imam Bukhari. Sesungguhnya, tidak mudah bagi negara komunis semacam Uni Soviet untuk menemukan makam seorang
tokoh Islam yang menjadi pemimpin para perawi Hadis ini. Namun, permintaan Bung Karno ini justru mendorong kerja sama kedua negara kemudian.
Setelah Bung Karno mengunjungi
Uzbekistan pada 1956, Nikita Khrushchev mengunjungi Indonesia pada 1960.
Kerja sama Indonesia-Uzbekistan kali ini berkonsentrasi kepada teater dan seni pertunjukan sebagai bahasa diplomasi universal. Berkaca kepada momen sejarah yang penting ini, Bumi Purnati Indonesia menggandeng The Drama Theater of Kattakurgan sebagai mitra, demi
menampilkan kekuatan artistik dan warisan tradisi kedua negara seraya menafsir kembali
warisan budaya, politik, dan spiritual kunjungan Sukarno ke Uzbekistan.
Kerja sama ini bermula pada 2022 ketika Botir Tugalov, Direktur Kattakurgan, menghubungi Restu Imansari Kusumaningrum dari Bumi Purnati Indonesia, untuk menggagas riset tentang
kunjungan Presiden Sukarno ke Uzbekistan. Melalui tawaran itu, kolaborasi antara Purnati dan Kattakurgan ini bermula. Keduanya sepakat untuk menggali kembali nilai-nilai penting melalui dua sosok besar kedua negara: Imam Bukhari dan Sukarno.
Pementasan ini adalah sebentuk pementasan teater arsip, yang menampilkan kembali
dokumentasi sejarah tentang dua sosok penting Imam Bukhari dan Sukarno. Pentas ini mentransformasikan ke atas panggung warisan budaya yang kaya antara Indonesia dan Uzbekistan. Di panggung muncul sosok Sukarno sebagai kekuatan spiritual dan pahlawan.











