Gaya HidupSurabaya

Keluar dari Zona Nyaman, Veranica Menyalakan Mimpinya di UTBK UNESA

×

Keluar dari Zona Nyaman, Veranica Menyalakan Mimpinya di UTBK UNESA

Sebarkan artikel ini
Veranica Imanuella Kalameha (19). tunanetra yang mengikuti UTBK di Unesa / Foto : Humas Unesa.

KaMedia – Di lantai 4 Gedung Rektorat Kampus Lidah Wetan, suasana ujian UTBK biasanya terasa tegang dan sunyi. Tapi hari itu, ada ketenangan yang berbeda dari seorang peserta bernama Veranica Imanuella Kalameha (19).

Veranica adalah tunanetra. Namun, keterbatasan penglihatan tak pernah membatasi cara pandangnya terhadap masa depan.

Dengan bantuan screen reader dan pendamping dari panitia, ia menyelesaikan ujian di Universitas Negeri Surabaya tanpa hambatan berarti. Teknologi menjadi “mata”, sementara dukungan manusia menjadi penguat langkahnya.

“Pelayanannya sangat baik, kakak-kakak yang mendampingi juga selalu membantu,” tuturnya hangat.

Lulusan SMAN 10 Surabaya ini punya mimpi sederhana tapi kuat: masuk S-1 Ilmu Komunikasi. Ia jatuh cinta pada dunia menulis dan public speaking, dua hal yang membuatnya merasa suaranya berarti. Pilihan lainnya tetap di kampus yang sama: Sastra Indonesia dan D4 Administrasi Negara.

Di balik ketenangannya, ada disiplin yang tak terlihat. Selama enam bulan terakhir, Veranica menjalani tryout online hingga tiga jam setiap hari. Laptop dengan screen reader menjadi teman setianya berlatih, menaklukkan soal demi soal.

Namun perjalanan Veranica bukan hanya soal akademik. Sejak kecil ia bersekolah di SLB, hingga akhirnya memutuskan melangkah keluar dari zona nyaman dan melanjutkan ke sekolah umum.

“Alasannya ingin keluar dari zona nyaman, coba cari tantangan,” katanya tegas.

Keputusan itu membentuk mentalnya. Ia belajar beradaptasi, berani, dan percaya diri di lingkungan baru. Bukan hanya itu, Veranica juga aktif di seni: menyanyi, bermain keyboard, hingga memetik gitar.

Kisahnya bukan sekadar tentang perjuangan, tapi tentang pilihan. Pilihan untuk mencoba, untuk tidak berhenti, dan untuk tetap bermimpi.

Di tengah keterbatasan visual, Veranica justru melihat lebih jauh dari banyak orang: bahwa masa depan tidak ditentukan oleh apa yang hilang, tetapi oleh apa yang terus diperjuangkan.

Kini, S-1 Ilmu Komunikasi UNESA bukan hanya tujuan. Ia adalah ruang yang menunggu suara-suara berani seperti Veranica, yang tak sekadar ingin masuk, tapi juga ingin memberi makna.