KaMedia – Jelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung meninjau kesiapan hewan kurban di sentra peternakan sapi Kabupaten Lamongan, Minggu (24/5/2026).
Dari kunjungannya ke Koperasi Ternak Gunungrejo Makmur di Desa Gunungrejo, Kecamatan Kedungpring, Khofifah memastikan stok hewan kurban di Jawa Timur dalam kondisi aman, sehat, dan mencukupi, bahkan siap dipasok ke berbagai daerah di luar Jawa Timur.
“Jadi cukup, aman dan sehat. Saya rasa ini harus disampaikan ke publik, bukan hanya untuk Jawa Timur tetapi juga luar Jawa Timur,” tegas Khofifah.
Data Dinas Peternakan kabupaten/kota se-Jawa Timur mencatat, total ketersediaan hewan kurban tahun 2026 mencapai 2.055.978 ekor. Jumlah itu terdiri dari 629.119 sapi, 940.693 kambing, 484.468 domba, dan 1.698 kerbau.
Sementara kebutuhan hewan kurban Idul Adha tahun ini diperkirakan hanya sekitar 427.060 ekor. Artinya, stok ternak di Jawa Timur masih sangat surplus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Jumlah ternak kurban di Jawa Timur tahun ini tersedia dan mencukupi kebutuhan sapi, kambing maupun domba,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga memberi apresiasi kepada Lamongan yang dinilai menjadi salah satu lumbung ternak terbesar di Jawa Timur. Saat ini, populasi ternak di Lamongan mencapai 108.987 sapi potong, 97.288 kambing, 86.319 domba, dan 130 kerbau.
“Terima kasih kepada Bupati Lamongan karena daerah ini menjadi salah satu penyedia sapi terbesar di Jawa Timur,” katanya.
Tak hanya stok yang melimpah, geliat ekonomi peternak menjelang Idul Adha tahun ini juga mengalami peningkatan. Harga sapi kurban tercatat naik sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta per ekor dibanding tahun lalu. Kenaikan juga terjadi pada harga per kilogram bobot hidup yang meningkat Rp5.000 hingga Rp10.000.
Meski harga naik, permintaan hewan kurban justru ikut melonjak.
Khofifah menyebut tingginya minat masyarakat untuk berkurban menjadi sinyal positif bagi sektor peternakan di tengah dinamika ekonomi yang terjadi.
“Saya menyampaikan terima kasih karena para peternak memiliki semangat luar biasa. Apalagi kalau terkonfirmasi tingkat penjualannya tahun ini meningkat dibanding tahun lalu,” ungkapnya.
Sementara itu, harga kambing dan domba mulai stabil dibanding kondisi akhir 2025 hingga awal 2026. Hewan kurban jenis ini paling banyak diburu masyarakat di kisaran harga Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekor.
Menurut Khofifah, momentum Idul Adha bukan hanya soal ibadah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi rakyat.
“Momen kurban tahun ini cukup membantu perekonomian peternak dan mampu meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan mereka,” katanya.
Untuk memastikan keamanan hewan kurban, Pemprov Jawa Timur juga menyiagakan ribuan petugas pemeriksa hewan di seluruh daerah. Total ada 950 dokter hewan, 1.500 paramedik veteriner, 145 pengawas bibit ternak, 75 pengawas mutu pakan, dan 1.997 Juru Sembelih Halal (JULEHA) bersertifikat.
Selain itu, seluruh ternak kurban juga dipastikan telah melalui vaksinasi, pengobatan rutin, dan penerapan biosecurity guna mencegah penyebaran penyakit hewan menular seperti PMK.
“Ternak-ternak tersebut sudah terjamin kesehatannya karena telah dilakukan vaksinasi, biosecurity dan pengobatan ternak di seluruh wilayah Jawa Timur,” jelas Khofifah.
Di sisi lain, Pengelola Koperasi Ternak Gunungrejo Makmur, Suparto, mengungkapkan usaha peternakan yang dirintis sejak 2008 itu awalnya hanya memiliki sekitar 20 ekor sapi dari program Sarjana Membangun Desa Kementerian Pertanian.
Kini, koperasi tersebut berkembang pesat dan tak hanya bergerak di sektor sapi potong, tetapi juga ayam petelur dengan pembinaan berkelanjutan dari pemerintah dan koperasi.
“Tahun ini kami menyiapkan sekitar 300 ekor sapi kurban dan alhamdulillah sudah terjual sekitar 80 persen ke Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo,” ujar Suparto.
Menariknya, dalam kunjungan tersebut, Gubernur Khofifah juga ikut memborong delapan ekor sapi kurban dari koperasi tersebut.











