KaMedia – Rintik hujan masih turun ketika Dedy Irwansyah melangkah masuk ke Perumahan Alam Mutiara, Desa Kendalpecabean, Kamis (25/12/2025). Air belum sepenuhnya surut, jejak banjir masih tampak di halaman rumah warga. Di desa ini, banjir bukan cerita baru, ia datang hampir setiap tahun, menyisakan lumpur, lelah, dan pertanyaan yang tak kunjung terjawab: kapan semua ini berakhir?
Di tengah situasi itulah Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Timur itu hadir. Bukan dengan pidato panjang atau janji berlapis, melainkan dengan satu pesan sederhana: mendengar.
Bagi warga Kendalpecabean, kehadiran politisi Partai Demokrat tersebut terasa berbeda. Selama bertahun-tahun mereka hidup berdampingan dengan banjir tanpa solusi nyata. Program datang dan pergi, rapat digelar, tetapi air tetap kembali menggenangi rumah.
“Sebagai wakil rakyat di DPRD Jatim, saya akan mengawal program kerja Pemkab Sidoarjo yang selama ini belum maksimal. Silakan disampaikan semua keluhan,” ujar Dedy membuka pertemuan bersama tokoh masyarakat desa.
Ia bahkan meminta warga untuk tidak melihatnya dalam bingkai partai politik.
“Kehadiran saya murni sebagai wakil rakyat. Wakil panjenengan. Kesampingkan dulu urusan partai, yang utama adalah kepentingan warga Sidoarjo yang belum terwujud,” katanya, disambut anggukan warga yang sejak awal datang dengan harapan sekaligus keraguan.
Pertemuan berlangsung sederhana, diiringi suara hujan yang tak henti-henti, seolah mengingatkan alasan utama mereka berkumpul. Ketua BPD Desa Kendalpecabean, Eko Subroto, menyampaikan langsung kegelisahan warga. Ia menanyakan peluang berbagai program dari DPRD Jawa Timur yang bisa diterapkan di desa mereka, mulai dari dana Bantuan Keuangan (BK) hingga pembangunan infrastruktur pengendalian banjir.
“Ini pertemuan pertama warga dengan Pak Dedy. Selain perkenalan, warga juga ingin tahu program-program apa yang bisa benar-benar dirasakan manfaatnya di Kendalpecabean,” ujar Eko.
Menurutnya, Dedy berjanji tidak berhenti pada pertemuan simbolik semata.
“Nanti kami akan susun proposal, dan Pak Dedy siap mengawal sampai ke Pemprov Jawa Timur,” tambahnya.
Harapan itu terasa nyata bagi warga. Selama ini, banjir bukan hanya soal air yang meluap, tetapi juga konflik sosial yang kerap muncul antarwarga, antarwilayah, bahkan antarinstansi. Ketika solusi tak kunjung datang, kelelahan berubah menjadi saling menyalahkan.
Handi, salah satu warga perumahan yang rumahnya kerap terendam, menyampaikan harapannya dengan lugas.
“Kami ingin kehadiran Pak Dedi benar-benar membantu warga bebas dari banjir. Infrastruktur pengendalian banjir harus dipercepat. Harapan kami, tahun depan Kendalpecabean sudah merdeka dari banjir,” katanya.
Di bawah hujan yang masih turun, pertemuan itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi warga Kendalpecabean, ia menjadi penanda bahwa penderitaan mereka akhirnya didengar. Bahwa di balik genangan air yang datang saban tahun, masih ada ruang untuk berharap, asal ada yang mau mengawal, bukan sekadar datang lalu pergi. Dan di desa yang sudah terlalu lama berdamai dengan banjir, harapan itu kini punya nama.











