KaMedia – Di sebuah sudut ruang audiensi DPRD Kota Surabaya, suara Gilang Ardi Pradana terdengar pelan namun bergetar. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya itu bukan sedang berdebat, melainkan menyampaikan kegelisahan yang selama berbulan-bulan ia pendam. Beasiswa yang dulu menjadi jembatan menuju masa depan, kini justru menyisakan jurang kecemasan.
Beasiswa Pemuda Tangguh, program yang sejak awal digadang-gadang sebagai harapan bagi anak-anak Surabaya untuk mengenyam pendidikan tinggi, tiba-tiba berubah skema. Bantuan yang semula menanggung penuh Uang Kuliah Tunggal (UKT), kini hanya menutup sebagian. Sisanya? Harus ditanggung sendiri oleh mahasiswa dan keluarga mereka.
“Sisa UKT-nya besar. Kalau dipaksakan, ujung-ujungnya bisa pinjam sana-sini. Bahkan pinjol,” ujar Gilang lirih usai audiensi bersama DPRD Komisi D.
Bagi Gilang dan ratusan mahasiswa lain, beasiswa bukan sekadar angka di lembar anggaran. Ia adalah napas. Adalah penghapus rasa bersalah setiap kali orang tua bertanya, ‘kuliahmu aman, Nak?’
Forum Komunikasi Penerima Beasiswa Pemuda Tangguh (Forkompeta) mencatat, perubahan skema ini membuat banyak penerima lama yang sejak awal mendaftar dengan janji pembiayaan penuh kini terjebak dalam ketidakpastian. Ada yang harus menunda bayar UKT, ada yang mulai memikirkan cicilan, bahkan ada yang diam-diam mempertimbangkan berhenti kuliah.
Padahal, sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga sederhana. Beberapa orang tua adalah buruh, pedagang kecil, atau pekerja serabutan yang sejak awal menyerahkan mimpi anaknya pada beasiswa ini.
“Programnya sangat baik. Tapi perubahan ini seolah lupa bahwa kami masih berjalan di jalur yang sama,” kata Gilang, penerima beasiswa sejak Agustus 2023.
Keresahan itu akhirnya sampai ke telinga DPRD Kota Surabaya. Anggota Komisi D, dr. Zuhrotul Mar’ah, tak bisa menyembunyikan keprihatinannya. Ia menegaskan satu hal penting: mahasiswa penerima lama tidak boleh menanggung konsekuensi perubahan kebijakan.
“Adik-adik ini sudah berjuang. Jangan sampai UKT yang dulu Rp7 juta lalu sekarang hanya dibantu Rp2,5 juta, sisanya dibebankan ke mereka,” ujarnya tegas.
Menurutnya, perubahan kebijakan tanpa solusi yang matang justru berpotensi melahirkan masalah sosial baru. Orang tua resah, mahasiswa tertekan, dan fokus belajar tergerus oleh kecemasan finansial. Komisi D, kata dia, telah memprediksi persoalan ini. Ketidaksinkronan kebijakan antara Pemkot dan kampus membuat mahasiswa terjepit di tengah. Ada kampus yang memberi cicilan, ada yang meminta bayar sebagian, tapi tidak sedikit yang tetap mematok UKT lama.
“Kalau kampus tidak bisa menurunkan UKT, maka penerima lama sampai 2025 harus dibayarkan penuh. Bisa lewat CSR atau perubahan anggaran,” tegasnya.
Sementara itu, mahasiswa masih menunggu jawaban pasti dari Pemerintah Kota Surabaya. Dua surat audiensi telah dikirimkan ke Disbudporapar sejak Desember 2025. Pertemuan memang terjadi, namun belum menghadirkan kejelasan.
“Kami hanya ingin kepastian. Bukan janji,” kata Gilang.
Di kampus negeri seperti Unesa, UKT berkisar Rp2,5 juta hingga Rp7 juta. Di perguruan tinggi swasta, angkanya bisa melonjak hingga Rp15 juta per semester. Sebagian kampus memilih menunggu Peraturan Wali Kota sebagai dasar pencairan. Sementara waktu terus berjalan, dan kalender akademik tak mau menunggu.
Di Universitas Airlangga saja, jumlah penerima Beasiswa Pemuda Tangguh mencapai lebih dari seribu mahasiswa. Total penerima tersebar di sekitar 15 perguruan tinggi di Surabaya. Ribuan mimpi kini berada di persimpangan: melanjutkan pendidikan atau menyerah pada keadaan.
DPRD sendiri telah menyepakati anggaran beasiswa 2026 sebesar Rp191,8 miliar, dengan skema lebih ketat untuk keluarga miskin dan pramiskin. Namun satu pesan ditekankan dengan jelas: yang lama tidak boleh dikorbankan.
“Yang 2026 boleh lebih selektif. Tapi yang sudah berjalan sampai 2025 ini harus dilindungi,” ujar dr. Zuhrotul.
Menjelang audiensi lanjutan pada Senin mendatang, mahasiswa hanya bisa menunggu. Di balik wajah-wajah muda yang duduk rapi di ruang audiensi, tersimpan cerita tentang orang tua yang bekerja lebih lama, doa yang dipanjatkan setiap malam, dan mimpi sederhana: lulus tepat waktu tanpa meninggalkan utang.
Beasiswa itu bernama Pemuda Tangguh. Dan hari ini, ketangguhan mereka diuji bukan di ruang kelas, melainkan di meja kebijakan.











