KaMedia – Wakil Bupati Sidoarjo Hj. Mimik Idayana melihat peluang besar dari tanaman herbal untuk menggerakkan perekonomian desa. Hal itu disampaikannya saat mengunjungi sentra produksi teh daun kumis kucing milik Herwanto di Dusun Girang, Desa Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, Selasa (4/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Mimik tidak hanya melihat proses pengolahan teh herbal bermerek Herbaroso, tetapi juga ikut memanen daun kumis kucing bersama Herwanto di kebun seluas sekitar 500 meter persegi. Dari lahan yang dulunya kurang produktif, kini tumbuh tanaman herbal yang mampu menghadirkan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Mimik, apa yang dilakukan Herwanto membuktikan bahwa lahan kosong bisa disulap menjadi sumber penghasilan baru. Ia berharap langkah serupa dapat menginspirasi desa-desa lain di Kabupaten Sidoarjo.
” Tanaman toga sebenarnya banyak sekali, tetapi kita mulai dari tanaman kumis kucing. Ini salah satu contoh bahwa dengan menanam tanaman kumis kucing masyarakat bisa memperoleh tambahan penghasilan. Perputaran ekonomi desa juga akan semakin cepat,” ujar Mimik.
Ia bahkan mendorong Desa Wonokupang menjadi desa percontohan pengembangan UMKM berbasis tanaman herbal. Menurutnya, masih banyak lahan tidur di pedesaan yang berpotensi dimanfaatkan untuk budidaya tanaman obat keluarga (toga), khususnya kumis kucing.
” Ayo desa-desa lainnya ikut mengembangkan. Banyak lahan yang belum dimanfaatkan, padahal bisa menghasilkan nilai ekonomi,” ajaknya.
Selain bernilai ekonomi, tanaman kumis kucing juga dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan. Daunnya dapat diolah menjadi teh herbal yang praktis dikonsumsi hanya dengan diseduh, sehingga berpotensi menjadi produk unggulan UMKM sekaligus mendukung gaya hidup sehat masyarakat
Di balik lahirnya Herbaroso, tersimpan kepedulian Herwanto terhadap persoalan kesehatan. Sebagai tenaga kesehatan di TNI Angkatan Laut, ia mengaku tergerak setelah melihat meningkatnya kasus penyakit ginjal di Indonesia. Dari keprihatinan itulah muncul gagasan mengembangkan teh daun kumis kucing sebagai alternatif minuman herbal.
“Berawal dari keprihatinan saya terhadap meningkatnya kasus gagal ginjal. Saya ingin berupaya membantu masyarakat melalui tanaman herbal yang memang dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan ginjal,” tuturnya.
Perjalanan membangun usaha ini, lanjut Herwanto, tidak selalu mulus. Pada awalnya, bibit tanaman kumis kucing cukup sulit diperoleh. Namun setelah berhasil dibudidayakan, tanaman tersebut justru tumbuh subur di pekarangan rumah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
Keunggulan lainnya, tanaman kumis kucing relatif mudah dirawat karena tahan terhadap serangan hama sehingga tidak membutuhkan pestisida. Panen pertama dapat dilakukan sekitar satu setengah bulan setelah tanam, kemudian dipanen secara berkala hingga tiga tahun selama masa produktifnya.
Kini usaha Herwanto terus berkembang. Ia telah bermitra dengan sekitar 10 petani yang secara rutin memasok 700 hingga 800 kilogram daun kumis kucing setiap bulan untuk diolah menjadi teh herbal.
Meski demikian, kebutuhan bahan baku masih jauh dari kata cukup. Karena itu, peluang bagi masyarakat yang ingin membudidayakan tanaman kumis kucing masih sangat terbuka.
” Harga daun basah yang sudah dicacah Rp3.000 per kilogram. Kami siap menampung hasil panen petani karena kebutuhan bahan baku masih cukup besar,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan lahan kosong untuk membudidayakan tanaman kumis kucing. Selain mendukung gaya hidup sehat, budidaya tanaman herbal tersebut juga diyakini mampu meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus memperkuat perkembangan UMKM di Sidoarjo.











