Gaya HidupNasional

” Predator Balik Kampung”, Arak-arakan Wisuda Teater ISI Yogyakarta Sindir Kembalinya Oknum yang Pernah Terjerat Kasus Kekerasan Seksual

×

” Predator Balik Kampung”, Arak-arakan Wisuda Teater ISI Yogyakarta Sindir Kembalinya Oknum yang Pernah Terjerat Kasus Kekerasan Seksual

Sebarkan artikel ini
Arak-arakan wisuda Program Studi Teater ISI Yogyakarta 2026 tampil berbeda. Mengusung tema “Predator Balik Kampung”, mahasiswa menjadikan prosesi wisuda sebagai ruang untuk menyuarakan keresahan terhadap kembalinya seorang oknum dosen yang sebelumnya pernah terjerat kasus kekerasan seksual / Foto : Istimewa.

KaMedia – Arak-arakan wisuda Program Studi Teater ISI Yogyakarta 2026 tampil berbeda. Mengusung tema “Predator Balik Kampung”, mahasiswa menjadikan prosesi wisuda sebagai ruang untuk menyuarakan keresahan terhadap kembalinya seorang oknum dosen yang sebelumnya pernah terjerat kasus kekerasan seksual.

Alih-alih mendapat sanksi dan penyelesaian yang berpihak kepada korban, sosok tersebut dinilai perlahan kembali muncul ke ruang publik seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Situasi itu memantik kemarahan sekaligus ketakutan mahasiswa terhadap kemungkinan dinormalisasikannya kembali kekerasan di lingkungan pendidikan.

Keresahan tersebut tidak hanya diarahkan pada relasi dosen dan mahasiswa. Mahasiswa Teater ISI Yogyakarta juga menyoroti kekerasan seksual yang dapat terjadi di antara mahasiswa—dalam relasi pertemanan, organisasi, maupun lingkungan pendidikan.

Melalui “Predator Balik Kampung”, keresahan itu diterjemahkan ke dalam bahasa artistik yang menjadi wilayah mahasiswa teater: tubuh, visual, bunyi, simbol, serta performance art.

Bukan pertunjukan konvensional dengan panggung dan penonton yang terpisah, gagasan tersebut diwujudkan dalam bentuk arak-arakan yang bergerak bersama prosesi wisuda. Ruang terbuka dipilih agar aksi dapat disaksikan oleh orang-orang yang datang dan pergi sepanjang perjalanan.

Arak-arakan itu dirancang sebagai sebuah ritual yang dapat berulang. Pesannya tidak bergantung pada satu adegan yang hanya bisa dipahami jika penonton menyaksikannya sejak awal.

Figur sentral dalam ritual tersebut adalah Tokek, karakter yang terinspirasi dari tokoh bernama sama dalam film Ghost in the Shell. Karakter fiksi tersebut kemudian dikembangkan mahasiswa menjadi simbol figur predator yang dapat kembali ke ruang publik seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Tokek tidak hadir dengan wajah ketakutan. Ia justru datang dengan percaya diri, tersenyum, memandang rendah orang-orang di sekitarnya, dan berjalan seolah sedang disambut pulang.

Di situlah ironi utama dibangun, sosok yang semestinya menjadi sumber kekhawatiran justru diperlakukan seakan kepulangannya merupakan sesuatu yang patut dirayakan.

Dalam ritual, penonton dan peserta membentuk lingkaran. Tokek berada di tengah, dikelilingi empat sosok anomali yang menutupinya menggunakan payung

Keempat sosok tersebut menjadi simbol kekuatan yang dianggap mampu melindungi Tokek dari konsekuensi hukum maupun sosial, baik institusi, pemerintah, maupun figur-figur berkuasa.

Di dalam lingkaran besar terdapat lingkaran kecil yang diisi sejumlah karakter. Masing-masing memiliki respons berbeda terhadap situasi yang berlangsung. Di sisi lain, seorang badut menyampaikan orasi tentang kepulangan sang predator.

” Kita hanyalah anjing-anjing kecil di antara manusia yang tak memandang kita, apalagi menghargai kita ”

Kalimat tersebut menjadi sindiran terhadap situasi ketika seorang yang pernah terseret kasus kekerasan justru dapat kembali tampil tanpa menunjukkan adanya konsekuensi yang sepadan. Orasi kemudian ditutup dengan seruan bersama

“Selamat datang di zona aman predator!”

Orang-orang di lingkaran dalam kemudian berdiri dan melakukan gerakan “meruang”, disertai potongan dialog seperti “jangan normalkan”, “korban dibungkam”, “tolak predator”, hingga “predator pendidik”.

Gerakan dan suara itu menggambarkan pikiran, ingatan, suara, dan keresahan yang terus berputar di sekitar persoalan kekerasan.

Sementara itu, kelompok di lingkaran luar membentuk gestur “see no evil, hear no evil, speak no evil”, yang divisualisasikan melalui simbol three wise monkeys. Mereka menggambarkan lingkungan yang sebenarnya berhadapan langsung dengan persoalan, tetapi memilih untuk tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak berbicara.

Sikap diam itulah yang kemudian menjadi bagian dari gambaran terbentuknya “zona aman” bagi Tokek. Ketika Tokek berteriak, suasana berubah. Suara-suara dari lingkaran dalam perlahan mengecil. Kelompok yang sebelumnya membentuk three wise monkeys mengubah posisi tubuh menjadi sosok-sosok yang ketakutan. Keheningan mengambil alih ruang.

Tokek kemudian keluar dari zona yang sebelumnya dibentuk empat sosok anomali. Ia berjalan mengelilingi ruang sambil berdialog. Setiap orang yang disentuhnya berpindah posisi secara teatrikal. Hingga kemudian Tokek mendekati seorang perempuan.

Perempuan tersebut digambarkan mengenakan pakaian yang dipenuhi bercak darah, dengan luka di sekitar bibir. Tubuhnya menjadi simbol korban yang telah berulang kali berteriak mengenai apa yang dialaminya, tetapi suaranya tidak kunjung didengar.

Mulut yang terluka menggambarkan teriakan yang seakan telah disampaikan puluhan bahkan ratusan kali, namun keadilan tetap tidak datang. Tokek mendekatinya.

Badut kemudian mengikat perempuan tersebut dan menghubungkannya dengan tubuh Tokek. Tali menjadi simbol ikatan antara predator dan dampak yang ditinggalkannya, bahwa trauma korban tidak serta-merta berakhir ketika pelaku kembali menjalani kehidupan seperti biasa.

Tokek dapat berjalan kembali.Namun ada sesuatu yang tetap tertinggal dan sekaligus terus terbawa bersamanya. Setelah tali terhubung, tidak ada lagi dialog. Tidak ada lagi orasi. Tidak ada lagi teriakan. Tidak ada lagi perdebatan. Semua mulai bergerak.

Tokek berjalan di bagian depan dengan perempuan tersebut tetap terhubung kepadanya. Kelompok-kelompok lain kemudian mengikuti dan membentuk prosesi arak-arakan.

Pesan yang sama juga diperkuat melalui elemen artistik. Sejumlah tampah, poster, dan properti membawa tulisan-tulisan bernada sindiran, antara lain “Tokek, Selamat Pulang” dan “Korban Dibungkam, Pelaku Disayang.”

Setiap peserta membawa simbol dan tulisan masing-masing. Bahkan kereta kelinci yang digunakan untuk membawa para wisudawan dihias dengan berbagai pesan kritik terhadap persoalan tersebut.

Dengan demikian, arak-arakan tidak sekadar menjadi bagian dari perayaan kelulusan. Ia menjadi ruang artikulasi keresahan mahasiswa terhadap bagaimana kekerasan dipandang, bagaimana korban diperlakukan, dan bagaimana seseorang yang pernah terseret kasus dapat kembali hadir di ruang publik.

Predator Balik Kampung” pada akhirnya berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada kepulangan satu figur. Ia mempertanyakan anggapan bahwa persoalan otomatis selesai hanya karena waktu berjalan atau karena seseorang kembali menjalani kehidupannya seperti biasa.

Sebab ketika satu pihak dapat berjalan pulang seolah tidak terjadi apa-apa, pihak lain mungkin masih berjalan sambil membawa sesuatu yang besar, trauma, ingatan, dan persoalan yang belum selesai.