Gaya HidupHeadlineJatimKesehatan

Anak-anak Jawa Timur Tak Lagi Sekadar Main Game, Kini Masuk Jerat Judi Online hingga Dirawat di RS Jiwa

×

Anak-anak Jawa Timur Tak Lagi Sekadar Main Game, Kini Masuk Jerat Judi Online hingga Dirawat di RS Jiwa

Sebarkan artikel ini
RS Jiwa Menur Surabaya banyak menerima pasien pelajar yang mengalami depresi akibat judi online / Foto : Ilustrasi.

KaMedia – Fenomena kecanduan digital di Jawa Timur sudah memasuki fase darurat. Anak-anak dan remaja tak lagi sekadar kecanduan game online, tetapi mulai terseret ke jurang pornografi hingga judi online (judol) yang berujung gangguan mental serius. Bahkan, sebagian harus dirawat di rumah sakit jiwa karena tak mampu lagi lepas dari telepon genggam di tangan mereka.

Di RS Menur, kondisi para pasien remaja disebut makin mengkhawatirkan. Mereka datang bukan hanya dengan masalah perilaku biasa, tetapi sudah kehilangan kendali atas hidupnya sendiri akibat kecanduan digital.

Dokter Klinik Gangguan Belajar Anak dan Instalasi Jiwa Anak Remaja RS Menur, Ivana Sajogo, mengungkapkan sebagian besar kasus bermula dari game online yang dianggap “hiburan biasa” oleh orang tua. Namun perlahan, anak-anak masuk ke lingkaran adiksi yang lebih gelap: pornografi dan judi online.

“Kasus anak yang datang itu biasanya kompleks, tidak hanya karena judi online saja. Kebanyakan justru berawal dari game online, kemudian berkembang ke arah lain, termasuk judi online,” ujar dr Ivana.

Yang lebih mengerikan, kecanduan itu bukan sekadar membuat anak malas belajar. Banyak remaja berubah total: mengurung diri di kamar, putus komunikasi dengan keluarga, menolak sekolah, hingga tak peduli kebersihan diri. Ada yang berhari-hari tidak mandi, emosinya meledak-ledak, bahkan depresi berat ketika akses HP dibatasi.

“Mereka lebih suka menyendiri di kamar, tidak mau bergaul, hingga mengabaikan diri sendiri seperti tidak mandi atau tidak ganti baju,” katanya.

Ironisnya, orang tua sering baru sadar ketika kondisi anak sudah di titik parah. Sebagian pasien bahkan diantar ke rumah sakit bukan hanya oleh keluarga, tetapi juga guru hingga ketua RT karena lingkungan sekitar sudah kewalahan menghadapi perilaku mereka.

Lebih mengejutkan lagi, RS Menur pernah menerima calon pasien berusia enam tahun yang mulai menunjukkan perilaku adiktif akibat paparan gadget. Artinya, racun digital kini sudah menyerang anak-anak usia dini.

Di ruang perawatan, para pasien dipaksa “puasa gadget”. Tidak ada HP, media sosial, atau akses internet. Mereka diarahkan mengikuti terapi kelompok, olahraga, dan latihan komunikasi sosial demi mengembalikan kemampuan berinteraksi di dunia nyata.

Namun masalahnya jauh lebih besar dari sekadar menyita ponsel. Banyak remaja mengalami stres berat hingga muncul keinginan bunuh diri ketika akses HP dihentikan.

“Ada juga anak remaja hingga usia awal kuliah yang mengalami depresi berat, bahkan muncul keinginan mengakhiri hidup ketika akses HP dibatasi,” ungkap dr Ivana.

Data di RS Menur memperlihatkan ledakan kasus yang tak bisa lagi dianggap sepele. Kasus kecanduan game online pada anak di bawah 18 tahun melonjak drastis dari 74 kasus pada 2022 menjadi 360 kasus sepanjang 2025. Hingga 10 Mei 2026 saja, jumlahnya sudah mencapai 120 kasus.

Sementara kasus judi online untuk semua usia naik brutal dari 72 kasus pada 2022 menjadi 380 kasus pada 2025. Pada 2026 hingga Mei, tercatat tiga kasus judol usia di bawah 18 tahun dan 230 kasus usia dewasa.

Angka itu seperti alarm keras bahwa generasi muda Jawa Timur sedang diburu industri digital yang tak mengenal belas kasihan. Anak-anak dijadikan target, sementara banyak orang tua masih menganggap gadget sekadar alat hiburan dan sekolah.

Dr Ivana menegaskan, larangan tanpa komunikasi hanya akan memperburuk keadaan. Orang tua diminta berhenti sekadar memarahi atau menghukum anak, tetapi mulai hadir sebagai tempat cerita dan diskusi.

Sebab ketika rumah gagal menjadi ruang aman, internet akan mengambil alih peran itu dan sering kali menyeret anak ke jurang yang lebih dalam.