Gaya HidupHeadlineJatim

Judol Kepung Anak-anak Jatim: Game di Ponsel Berubah Jadi Mesin Penghancur Masa Depan

×

Judol Kepung Anak-anak Jatim: Game di Ponsel Berubah Jadi Mesin Penghancur Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Kadis Kominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin / Foto : Istimewa.

KaMedia – Judi online kini tidak lagi menyasar orang dewasa. Target empuknya sudah bergeser, anak-anak dan remaja.Di Jawa Timur, alarm bahayanya mulai berbunyi keras.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyebut fenomena kecanduan judi online (judol) sudah berubah menjadi ancaman sosial serius. Bukan sekadar pelanggaran digital, tetapi wabah yang perlahan merusak mental, perilaku, hingga masa depan generasi muda.

Data RS Menur Surabaya menjadi bukti paling telanjang. Jumlah pasien terkait kecanduan judi online melonjak liar dari 72 kasus pada 2022 menjadi 380 kasus sepanjang 2025. Hingga 10 Mei 2026 saja, sudah muncul 233 kasus baru, termasuk korban usia di bawah 18 tahun. Artinya, anak-anak mulai masuk meja judi digital.

Kepala Diskominfo Jatim, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menyebut kondisi ini sudah sangat mengkhawatirkan. Apalagi Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat sekitar 200 ribu pelajar di Indonesia terindikasi kecanduan judi online.

“Ini bukan lagi sekadar isu internet. Judi online sudah masuk ke persoalan kesehatan mental dan sosial,” tegas Sherlita.

Masalahnya, judol kini tidak tampil seperti perjudian pada umumnya. Wajahnya dibuat ramah, penuh warna, dan menyerupai game biasa. Ada bonus harian, level permainan, hadiah instan, efek suara, hingga tampilan visual yang sengaja dirancang untuk memancing adrenalin remaja. Anak-anak akhirnya tidak sadar kapan mereka bermain game dan kapan mereka mulai berjudi.

“Batas antara hiburan dan perjudian sekarang dibuat kabur,” ujar Sherlita.

Yang lebih gila, promosi judol kini menyerbu media sosial tanpa ampun. Masuk lewat iklan digital, live streaming, grup chat, hingga pesan berantai.

Sekali anak mengklik, algoritma media sosial bekerja seperti bandar. Konten serupa terus muncul, mendorong korban masuk lebih dalam. Umpannya sederhana, cepat kaya, instan, tanpa kerja keras.

“Anak muda paling mudah dipancing dengan narasi uang cepat,” katanya.

Ironisnya lagi, jaringan judi online bahkan sempat menyusup ke situs resmi milik pemerintah daerah di Jawa Timur. Diskominfo Jatim menemukan konten judol disisipkan di sejumlah website perangkat daerah. Fakta itu menunjukkan satu hal, bandar judol bergerak lebih cepat daripada sistem pengawasan.

“Begitu ditemukan langsung kami amankan. Tapi ini membuktikan promosi judi online sangat agresif,” ungkap Sherlita.

Pemblokiran situs pun dianggap tidak lagi cukup. Sebab bandar tinggal membuat domain baru dalam hitungan jam..Satu ditutup, sepuluh muncul lagi.

Karena itu, Pemprov Jatim mulai menggencarkan perang lewat edukasi digital dan kampanye anti-judol. Namun pemerintah mengakui benteng utama tetap ada di rumah. Masalahnya, banyak orang tua justru tidak tahu apa yang dimainkan anaknya di ponsel setiap hari.

Padahal dampaknya bukan cuma uang habis. Judi online bisa memicu kecanduan, depresi, rusaknya prestasi sekolah, bahkan tindak kriminal.

“Judi online bukan hiburan. Ini jebakan yang menghancurkan masa depan anak-anak,” tegas Sherlita.

Kini pertanyaannya tinggal satu, apakah semua pihak mau bergerak cepat, atau justru membiarkan satu generasi tumbuh bersama candu judi di genggaman mereka sendiri?