HeadlinePemerintahanPolitikSurabaya

Komisi D DPRD Kota Surabaya Ingatkan Dinkes Siapkan Mitigasi Dampak Kesehatan El Nino

×

Komisi D DPRD Kota Surabaya Ingatkan Dinkes Siapkan Mitigasi Dampak Kesehatan El Nino

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, William Wirakusuma / Foto : Dok. Pribadi.

KaMedia – Ancaman gelombang panas akibat fenomena El Niño diperkirakan datang lebih cepat pada tahun ini. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Surabaya yang didorong untuk segera mengambil langkah antisipatif, terutama di sektor kesehatan masyarakat.

Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PSI, William Wirakusumah, menegaskan pentingnya kesiapan Dinas Kesehatan (Dinkes) dalam menghadapi potensi dampak yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem. Menurutnya, fenomena El Niño tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bagi masyarakat.

William mengacu pada peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan bahwa gelombang panas yang berkaitan dengan El Niño berpotensi datang lebih awal dari waktu yang diperkirakan. Oleh karena itu, ia menilai langkah mitigasi harus segera disiapkan sejak dini agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.

“ Dinkes harus mulai mempersiapkan mitigasi dampak kesehatan dari fenomena El Niño yang diprediksi datang lebih cepat,” ujar William dalam keterangannya.

Ia menjelaskan bahwa perubahan cuaca yang ekstrem dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti dehidrasi, heatstroke, gangguan pernapasan, hingga memperparah kondisi penyakit kronis yang sudah ada. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi ini dapat berdampak luas, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.

Sebagai langkah awal, William menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, informasi yang tepat dan mudah dipahami sangat diperlukan agar warga dapat mengetahui cara melindungi diri dari paparan suhu panas yang berlebihan. Edukasi ini dapat dilakukan melalui berbagai saluran, mulai dari media sosial, penyuluhan langsung, hingga kerja sama dengan perangkat kelurahan dan kecamatan.

“Dinkes juga perlu memberikan kiat kepada warga bagaimana menghadapi cuaca panas agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan,” jelasnya.

Beberapa langkah sederhana yang dapat disosialisasikan antara lain memperbanyak konsumsi air putih, menghindari aktivitas berat di luar ruangan saat siang hari, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta memastikan kondisi tubuh tetap terjaga. Edukasi ini dinilai sangat penting agar masyarakat tidak mengabaikan dampak dari suhu panas yang meningkat.

Selain itu, William juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan fasilitas layanan kesehatan. Ia meminta seluruh puskesmas di Surabaya untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi lonjakan pasien akibat penyakit yang dipicu oleh cuaca ekstrem. Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan diharapkan mampu memberikan penanganan cepat dan tepat.

“Semua puskesmas harus siap siaga menghadapi kemungkinan dampak kesehatan akibat gelombang panas ini,” tegasnya.

Kesiapan tersebut tidak hanya mencakup tenaga medis, tetapi juga ketersediaan obat-obatan, fasilitas pendukung, serta sistem penanganan pasien yang efektif. Dengan kesiapan yang optimal, diharapkan pelayanan kesehatan tetap berjalan maksimal meskipun terjadi peningkatan jumlah pasien.

Lebih lanjut, William menekankan bahwa kelompok lansia menjadi salah satu pihak yang paling rentan terhadap dampak gelombang panas. Kondisi fisik yang cenderung menurun membuat mereka lebih mudah mengalami gangguan kesehatan akibat suhu tinggi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus dari Dinas Kesehatan dalam memberikan perlindungan kepada kelompok ini.

“Mitigasi dampak kesehatan ini terutama harus diperhatikan untuk kelompok rentan seperti lansia,” pungkasnya.

Ia juga menyarankan agar pemerintah melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar dalam menjaga kesehatan lansia selama periode cuaca panas. Peran keluarga dinilai sangat penting dalam memastikan lansia mendapatkan perawatan yang cukup, termasuk asupan cairan, nutrisi, serta lingkungan yang nyaman.

Selain lansia, kelompok rentan lainnya seperti anak-anak dan penderita penyakit kronis juga perlu mendapatkan perhatian. Mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kesehatan akibat perubahan suhu yang ekstrem. Oleh karena itu, pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi sangat diperlukan dalam menghadapi fenomena ini.

Di sisi lain, pemerintah kota diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor dalam upaya mitigasi. Tidak hanya Dinas Kesehatan, tetapi juga instansi lain seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah perlu terlibat aktif. Kolaborasi ini penting untuk memastikan langkah penanganan berjalan efektif dan tepat sasaran.

Dengan berbagai langkah antisipatif yang disiapkan sejak dini, diharapkan dampak gelombang panas akibat El Niño dapat ditekan semaksimal mungkin. Kesiapan pemerintah dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem ini.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada dan tidak mengabaikan perubahan kondisi cuaca. Dengan menjaga kesehatan dan mengikuti anjuran yang diberikan, risiko dampak buruk dari gelombang panas dapat diminimalkan. Pemerintah Kota Surabaya diharapkan terus memantau perkembangan situasi dan mengambil langkah cepat jika diperlukan demi melindungi warganya. (ADV)

Headline

KaMedia – Tongkat kepemimpinan DPRD Kota Surabaya resmi berganti. Syaifuddin Zuhri dilantik sebagai Ketua DPRD Surabaya masa jabatan 2024–2029, menggantikan almarhum Adi Sutarwijono. Pelantikan berlangsung dalam rapat paripurna yang digelar…