HeadlinePemerintahanPolitikSurabaya

Dari Polemik Ke Rekonsiliasi: Armuji Dan Madas Pilih Bergandengan Tangan Untuk Surabaya Damai

×

Dari Polemik Ke Rekonsiliasi: Armuji Dan Madas Pilih Bergandengan Tangan Untuk Surabaya Damai

Sebarkan artikel ini
Ormas Madas dan Wawali Surabaya Armuji sepakat mengakhiri polemik untuk Surabaya damai / Foto : Ist.

KaMedia – Di tengah hingar-bingar media sosial dan gosip publik, ada momen yang menyejukkan muncul di Surabaya. Wakil Wali Kota Surabaya Armuji dan Ketua Umum DPP Madas, Mohammad Taufik, duduk bersama di Universitas dr Soetomo (Unitomo), bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk membuka lembaran baru: rekonsiliasi terbuka.

Polemik yang sempat memanas itu bermula dari penyebutan nama organisasi masyarakat Madura Asli Sedarah (Madas) oleh Armuji, yang kemudian viral dan menimbulkan kegaduhan di ruang publik. Namun, pertemuan mediasi hari ini menunjukkan, konflik bisa diakhiri dengan kejujuran, permohonan maaf, dan niat baik.

“Saya khilaf menyebut nama ormas. Saya mohon maaf. Tidak ada niat sedikit pun untuk menstigmatisasi Madas,” ujar Armuji dengan tegas di hadapan Taufik dan sejumlah tokoh masyarakat.

Suasana yang awalnya tegang perlahan mencair, ketika kata-kata itu diterima dengan kepala dingin. Taufik sendiri menekankan bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak terlibat dalam insiden yang dipersoalkan, dan menyayangkan stigma yang sempat melekat.

“Madas bukan ormas preman. Jika ada individu yang melanggar hukum, aparat berwenang yang akan memproses. Organisasi tidak akan menutupi oknum,” jelasnya.

Yang menarik dari pertemuan ini adalah sikap dewasa kedua belah pihak. Armuji mengakui kesalahannya, sementara Taufik juga mengedepankan penyelesaian damai dan legalitas. Keduanya sepakat, Surabaya harus tetap aman, kondusif, dan rukun, dan membiarkan proses hukum berjalan tanpa drama publik.

“Kalau bersalah, silakan ditindak. Yang terpenting, Surabaya tetap aman dan rukun,” kata Taufik, menegaskan pesan perdamaian yang menjadi inti pertemuan.

Bahkan laporan resmi yang sempat dilayangkan ke Polda Jatim dicabut, sebagai simbol bahwa rekonsiliasi lebih bernilai daripada konflik berkepanjangan. Pertemuan ini bukan sekadar menyelesaikan masalah, tapi juga memberikan contoh bagi publik, perbedaan, kesalahpahaman, atau salah paham tidak harus berubah menjadi stigma atau konflik.

Dengan dialog terbuka, Surabaya kembali menegaskan karakter kotanya, ramah, inklusif, dan menempatkan perdamaian di atas ego politik atau prasangka publik.

Di tengah hiruk-pikuk media sosial, langkah Armuji dan Taufik adalah pengingat bahwa kemanusiaan, kesantunan, dan niat baik bisa mengubah ketegangan menjadi peluang mempererat persatuan. Surabaya, melalui pertemuan kecil tapi sarat makna ini, kembali menunjukkan wajahnya, damai, bersatu, dan menyejukkan hati warganya.