KaMedia – Suasana di markas Persani Surabaya sudah panas. Latihan intensitas tinggi, gerakan demi gerakan, dan suara komando pelatih menggema – semua untuk satu tujuan: meraih emas di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Senam Jawa Timur 2026.
Ketua Umum Persani Surabaya, Pertiwi Ayu Krishna, tidak memberi ruang untuk setengah hati.
“Di Surabaya, atlet harus siap tempur. Tidak ada toleransi untuk lemah, mental harus baja!” tegasnya.
Setiap gerakan dipelajari hingga sempurna. Seleksi ketat, pembinaan super intensif, dan program mental juang membuat para atlet bukan hanya siap tampil, tapi siap menghadapi tekanan lawan yang tidak kenal ampun.
Pelatih senam, Christi Wulan, menambahkan tentang target yang harus dicapai anak asuhnya.
“Kita pasang target jelas: emas maksimal. Ini bukan sekadar kompetisi, ini pertaruhan harga diri Surabaya. Semua atlet harus siap bertempur, dengan tubuh dan pikiran 100 persen fokus.” ujarnya.
Dalam setiap sesi latihan, stamina dan ketahanan mental diuji. Simulasi pertandingan sengit digelar setiap hari, karena bagi Surabaya, Kejurprov ini bukan sekadar ajang; ini medan perang prestasi.
Persiapan ini juga untuk mengukur kesiapan menghadapi Porprov 2027, sehingga setiap kesalahan atau kelengahan akan dicatat. Tidak ada tempat untuk santai, tidak ada ruang untuk ragu. Hanya performa terbaik yang diterima, kalah adalah pelajaran pahit.
Di mata Pertiwi dan Christi, Kejurprov 2026 adalah pertarungan gengsi Surabaya. Semua mata akan tertuju pada tim mereka. Dan setiap lompatan, setiap gerakan, akan menjadi penentu: apakah Surabaya akan keluar sebagai raja senam Jawa Timur, atau menjadi pelajaran bagi kota lain yang menantang mereka?
Di arena ini, satu hal jelas: mental baja, disiplin keras, dan keberanian mutlak akan menjadi senjata utama Surabaya untuk menguasai podium. Emas adalah harga mati.











