KaMedia – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan. Delapan santri masih menjalani perawatan di RSUD setelah diduga mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG. Lima di antaranya dijadwalkan pulang hari ini, sementara tiga santri lainnya masih harus menjalani perawatan lanjutan.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Dr. H.R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., datang menjenguk para santri pada Kamis (4/9). Ia mengatakan, kondisi para pasien relatif stabil dan keluhan yang paling banyak dirasakan adalah gangguan perut serta mual.
“Alhamdulillah hari ini pasien yang dirawat ada 8 anak. Informasi dari Ibu Kepala Rumah Sakit, 5 orang hari ini akan dipulangkan. Jadi mungkin yang masih rawat lanjutan tinggal 3 orang saja,” ujarnya.
Meski disebut tidak dalam kondisi berat, kasus ini tetap menyisakan pertanyaan serius apa sebenarnya yang terjadi pada makanan yang dikonsumsi para santri.
Dari hasil wawancara awal, dua menu yang paling dominan dikonsumsi santri adalah telur dan sayuran. Namun, hingga kini belum ada kesimpulan mengenai sumber gangguan kesehatan tersebut.
” Dari hasil wawancara dengan anak-anak, gangguannya memang di perut, agak mual, tapi tidak bisa muntah. Tapi tidak terlalu berat,” terang Wamenag.
Penyebab kejadian masih dalam penyelidikan. Wamenag menyebut kemungkinan persoalan dapat berkaitan dengan proses memasak maupun jadwal konsumsi makanan yang harus mengacu pada petunjuk teknis (juknis) SPPG.
“Apakah proses masaknya atau jadwal makannya yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ada di Juknis,” katanya.
Pernyataan ini membuka persoalan yang jauh lebih besar. Jika program MBG menyasar anak-anak dan santri sebagai penerima manfaat, seberapa ketat sebenarnya pengawasan terhadap proses pengolahan, distribusi, hingga waktu makanan dikonsumsi.
Sebab, makanan bergizi bukan hanya soal kandungan nutrisi. Keamanan pangan seharusnya menjadi syarat mutlak.
Di tengah kasus dugaan keracunan tersebut, Wamenag mengatakan para santri tidak menunjukkan tanda-tanda trauma berat. Bahkan, mereka disebut tetap menantikan program MBG karena memang membutuhkannya.
“Selama ini tadi beberapa yang kita tanya, mereka menunggu dan sangat membutuhkan MBG itu,” ucapnya.
Pihak pesantren bahkan memastikan tidak akan berpindah penyedia dan tetap menerima MBG dari SPPG yang sama.
” Kita gak usah ke yang lain. Di pesantren ini saja. Dari SPPG yang sama,” pungkasnya.











