KaMedia – Di pesisir Surabaya, di antara deru kapal dan aktivitas bongkar muat Terminal Teluk Lamong, tumbuh cerita lain yang tak kalah penting: cerita tentang nelayan, tambak kecil, dan harapan akan hidup yang lebih baik. Bukan dari laut lepas, melainkan dari kolam-kolam budidaya kepiting soka.
Senin pagi, 12 Januari 2026, Terminal Teluk Lamong mempertemukan dua kelompok masyarakat pesisir dalam sebuah sharing session sederhana namun bermakna.
Kelompok Pembudidaya Ikan Kalitangi Asri Romokalisari datang berbagi pengalaman dengan Kelompok Nelayan Nambangan Perak. Bagi Terminal Teluk Lamong, inilah wujud nyata tanggung jawab sosial, membangun manusia, bukan sekadar infrastruktur.
Di bawah fasilitasi Terminal Teluk Lamong, obrolan mengalir akrab. Ketua Pokdakan Kalitangi Asri, Amin, tak berbicara dengan istilah rumit. Ia bercerita dari pengalaman jatuh bangun membudidayakan kepiting soka, terutama soal menjaga kualitas air agar kepiting tumbuh sehat dan cepat panen.
“Kalau airnya dijaga, kepitingnya ikut sehat. Dari situ penghasilan nelayan juga ikut terjaga,” ujarnya, disimak serius oleh para nelayan Nambangan Perak.
Bagi para nelayan, pertemuan ini bukan sekadar belajar teknik baru. Ini adalah ruang berbagi harapan. Ketua Program Budidaya Kepiting Soka KUB Bintang Laut, Sukron, merasakan langsung manfaat pendampingan yang diberikan Terminal Teluk Lamong.
“Terminal Teluk Lamong tidak hanya memberi bantuan, tapi juga membuka jalan bagi kami untuk belajar dan berkembang bersama,” tuturnya.
Peran Terminal Teluk Lamong memang tak berhenti pada fasilitasi satu kegiatan. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan pelabuhan ini secara konsisten mendorong kolaborasi antarkelompok nelayan agar tercipta kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.
Manager Komunikasi Korporasi PT Terminal Teluk Lamong, Dahlia Permata Sari, menyebut bahwa pemberdayaan masyarakat pesisir adalah bagian dari denyut kehidupan pelabuhan itu sendiri.
“Pelabuhan dan nelayan hidup berdampingan. Ketika nelayan tumbuh sejahtera, lingkungan pesisir juga ikut terjaga,” ujarnya.
Budidaya kepiting soka dipilih karena dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi dan relatif ramah lingkungan. Dengan pendampingan yang tepat, usaha ini diharapkan mampu menjadi sumber penghidupan yang stabil bagi nelayan pesisir Surabaya.
Di Terminal Teluk Lamong, pembangunan tidak hanya diukur dari panjang dermaga atau kapasitas bongkar muat. Ia juga diukur dari senyum nelayan, dari tambak yang kembali produktif, dan dari mimpi-mimpi kecil yang perlahan menjadi nyata.
Dari pesisir Surabaya, Terminal Teluk Lamong membuktikan bahwa pelabuhan modern pun bisa menjadi ruang tumbuh bagi harapan manusia.











