KaMedia – Di balik hiruk-pikuk awal tahun, ada perjuangan sunyi yang tengah berlangsung di Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Surabaya. Stok darah golongan O, yang kerap menjadi penopang bagi berbagai kondisi darurat medis, kini kosong sama sekali. Sebuah situasi yang berulang hampir setiap awal tahun, namun selalu menghadirkan kegelisahan yang sama: soal nyawa dan harapan.
Kepala Bagian Pelayanan dan Humas UDD PMI Kota Surabaya, dr. Wandai RMK, mengungkapkan bahwa dalam kondisi normal, PMI Surabaya membutuhkan sedikitnya 350 kantong darah per hari dari berbagai golongan, termasuk golongan O. Angka tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit yang bisa mencapai empat hingga lima permintaan darah dalam sehari.
Namun, awal tahun ini menghadirkan tantangan tersendiri. Permintaan darah golongan O meningkat tajam, sementara stok yang tersedia justru menipis hingga tak tersisa. Golongan darah O yang dikenal sebagai donor universal itu kini menjadi yang paling dicari, terutama untuk pasien dalam kondisi darurat.
“Permintaannya meningkat signifikan. Karena itu kami bergerak cepat agar kekosongan ini tidak berdampak pada pelayanan pasien,” ujar dr. Wandai.
Di tengah keterbatasan, PMI Surabaya memilih tidak diam. Berbagai upaya dilakukan untuk mengetuk pintu kepedulian masyarakat. Informasi disebarluaskan melalui media sosial dan jejaring relawan PMI, dengan harapan para pendonor, khususnya pemilik golongan darah O, tergerak untuk datang dan berbagi.
“Kami berharap penyebaran informasi ini bisa efektif. Setiap satu kantong darah sangat berarti bagi keselamatan pasien,” tambahnya.
Dr. Wandai juga menuturkan bahwa situasi seperti ini bukan hal baru. Krisis darah kerap terjadi menjelang hingga setelah libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Aktivitas donor menurun, sementara kebutuhan medis justru tetap berjalan, bahkan meningkat. Meski begitu, jenis golongan darah yang mengalami kelangkaan tak pernah bisa diprediksi.
“Tiap tahun polanya hampir sama, tapi golongan darah yang kosong bisa berbeda. Tahun ini yang paling terasa adalah golongan O,” jelasnya.
Di balik angka dan data, krisis darah ini adalah cerita tentang manusia yang saling bergantung satu sama lain. Tentang pasien yang menunggu, keluarga yang berharap, dan para pendonor yang menjadi jembatan kehidupan.
PMI Surabaya pun mengajak masyarakat untuk menjadikan donor darah bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud nyata solidaritas dan kepedulian sesama.
Karena di saat darah menjadi langka, setetes kepedulian bisa menjadi penentu kehidupan.











