KaMedia – Di balik aroma menyengat dan gunungan sampah yang selama puluhan tahun menjadi persoalan klasik kota besar, Surabaya memilih jalan berbeda. Kota Pahlawan tak lagi memandang sampah semata sebagai beban, melainkan sebagai sumber energi masa depan. Dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo, lahirlah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), sebuah ikhtiar nyata menuju energi bersih dan berkelanjutan.
PLTSa Benowo kini berdiri sebagai simbol transformasi: bagaimana persoalan lingkungan diolah menjadi solusi energi. Setiap hari, ribuan ton sampah rumah tangga diolah, diproses, dan dikonversi menjadi energi listrik yang disalurkan ke sistem kelistrikan Jawa Timur.
Sebuah langkah konkret dalam mendukung transisi Energi Baru Terbarukan (EBT). Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyebut PLTSa Benowo bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan wujud keberpihakan kota terhadap masa depan lingkungan dan generasi mendatang.
“PLTSa Benowo adalah bukti bahwa Surabaya tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi benar-benar bekerja. Sampah yang dulu menjadi masalah, hari ini kita ubah menjadi energi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Eri.
Menurut Eri, keberadaan PLTSa juga menjadi jawaban atas dua tantangan sekaligus, krisis pengelolaan sampah perkotaan dan kebutuhan energi bersih. Ia menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan harus berangkat dari keberanian mengambil keputusan strategis.
“Kami ingin Surabaya menjadi kota yang bertanggung jawab. Bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri, terhadap lingkungannya, dan terhadap masa depan anak-anak kita,” tegasnya.
Di sisi lain, peran PLTSa Benowo juga mendapat dukungan penuh dari PT PLN (Persero) sebagai tulang punggung sistem kelistrikan nasional. General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur Ahmad Mustaqir menilai PLTSa Benowo sebagai proyek strategis yang memperkuat bauran energi hijau di Jawa Timur.
“PLTSa Benowo adalah contoh konkret kolaborasi antara pemerintah daerah dan PLN dalam menghadirkan energi bersih. Ini bukan hanya soal listrik, tetapi tentang komitmen bersama menuju transisi energi,” ungkap Ahmad Mustaqir disela acara di UID Jawa Timur, Kamis (15/1/2026).
Ia menjelaskan, listrik yang dihasilkan dari PLTSa Benowo telah terintegrasi dengan sistem kelistrikan dan berkontribusi pada keandalan pasokan listrik di Surabaya. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi, kehadiran pembangkit berbasis EBT menjadi semakin penting.
“Ke depan, PLN terus mendorong pemanfaatan EBT, termasuk dari sampah kota. PLTSa Benowo menjadi model yang bisa direplikasi di daerah lain,” tambahnya.
Lebih dari sekadar teknologi, PLTSa Benowo membawa pesan kuat tentang perubahan cara pandang. Sampah bukan lagi akhir dari konsumsi, melainkan awal dari siklus energi baru. Dari dapur rumah tangga warga Surabaya, sisa konsumsi bertransformasi menjadi listrik yang kembali menerangi kota.
Bagi Surabaya, PLTSa Benowo adalah narasi tentang keberanian berinovasi. Bagi Indonesia, ia menjadi etalase bahwa transisi energi bukan mimpi jauh, melainkan kerja nyata yang bisa dimulai dari kota.
Di tengah tantangan krisis iklim dan keterbatasan energi fosil, PLTSa Benowo berdiri sebagai pengingat, solusi sering kali lahir dari masalah yang selama ini kita abaikan. Dari sampah, Surabaya menyalakan harapan.











